Kemendag Pastikan Pasokan Minyakita Aman Meski DMO Turun
Kementerian Perdagangan memastikan pasokan minyak goreng rakyat Minyakita tetap tersedia meski realisasi domestic market obligation (DMO) turun. Pernyataan itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal Shoffan Shofwan pada 31 Juli 2026 di Jakarta untuk merespons penurunan volume DMO.
Penjelasan Kemendag soal DMO dan ekspor CPO
Kemendag menegaskan kewajiban DMO hanya berlaku bagi produsen yang mengekspor crude palm oil (CPO). Oleh sebab itu, produksi Minyakita mengikuti ritme aktivitas ekspor CPO yang dilakukan pelaku usaha.
"Minyakita itu tergantung ekspor. Kalau misalnya pelakunya tidak melakukan ekspor, ya masa kita paksa mereka memproduksi Minyakita,"
Iqbal menjelaskan penurunan realisasi Minyakita biasanya terjadi saat aktivitas ekspor CPO menurun. Ia menyebut kondisi ini merupakan mekanisme dalam penerapan kebijakan DMO yang terkait dinamika pasar global.
"Jadi kalau misalnya produksi Minyakita itu turun ya, artinya di sisi yang lain ekspor CPO juga sedang turun. Itu aja cara melihatnya,"
Data realisasi dan sumber pasokan
Berdasarkan data Kemendag per 17 Juli 2026, realisasi DMO Minyakita periode 1–17 Juli 2026 mencapai 53.059 ton. Angka ini turun 1,02 persen dibanding bulan sebelumnya dan turun 56,02 persen secara tahunan.
| Periode | Volume | Keterangan |
|---|---|---|
| 1–17 Juli 2026 | 53.059 ton | Turun 1,02% vs bulan lalu; turun 56,02% yoy |
| 26 Des 2025–17 Juli 2026 (kumulatif) | 738.197 ton | 50,16% disalurkan via Perum Bulog & ID Food |
Pasokan periode tersebut berasal dari 61 produsen. Sebanyak 60 produsen telah memenuhi ketentuan minimal 35 persen penyaluran melalui Perum Bulog dan ID Food.
Jaminan distribusi dan pengawasan
Kemendag menyebut aturan yang mengatur hal ini adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2024 tentang minyak goreng sawit kemasan dan tata kelola minyak goreng rakyat. Pemerintah akan terus memantau distribusi agar barang sampai ke pasar rakyat.
Jika ditemukan indikasi kelangkaan, Kemendag akan meminta produsen memenuhi kewajiban penyaluran sesuai ketentuan. Namun, menurut Iqbal, kemungkinan produsen menghentikan produksi Minyakita karena tidak mengekspor CPO relatif kecil karena pola ekspor masih mengikuti kebutuhan pasar internasional.
Implikasi dan prospek
Dalam dua tahun terakhir pola ekspor CPO bergerak relatif stabil namun mengalami fluktuasi musiman. Aktivitas ekspor yang menurun pada awal tahun biasa diikuti penurunan produksi Minyakita, dan sebaliknya saat permintaan global meningkat.
Dengan pengawasan distribusi serta peran Bulog dan ID Food, Kemendag menilai pasokan minyak goreng rakyat tetap terjaga meski realisasi DMO berfluktuasi.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...