Parlemen Eropa Desak Investigasi Presiden FIFA Gianni Infantino
Parlemen Eropa meminta penyelidikan resmi terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, setelah FIFA mencabut sanksi terhadap Folarin Balogun di Piala Dunia 2026. Desakan itu muncul menyusul keputusan pencabutan larangan bermain atas kartu merah yang diterima Balogun pada 1 Juli, yang kemudian membuatnya tetap dapat tampil pada laga 16 besar.
Kontroversi pencabutan sanksi
Keputusan membatalkan hukuman terhadap Balogun menjadi yang pertama dalam sejarah modern Piala Dunia. Biasanya kartu merah otomatis mengakibatkan larangan tampil pada pertandingan berikutnya, namun dalam kasus ini komite disiplin FIFA memutuskan sebaliknya.
Langkah itu memicu protes dari berbagai pihak di Eropa yang mempertanyakan alasan teknis dan prosedural di balik pencabutan. UEFA menyebut keputusan tersebut sulit dipahami dan tidak dapat dibenarkan, menambah tekanan publik terhadap FIFA.
Desakan parlemen dan langkah yang diminta
Sejumlah anggota parlemen Eropa mulai menggalang dukungan untuk mendorong investigasi resmi terhadap Infantino. Mereka meminta federasi sepak bola nasional di negara-negara Uni Eropa ikut menekan FIFA agar membuka proses pengambilan keputusan secara transparan.
Para politisi menekankan pentingnya aturan yang adil dan transparan dalam olahraga internasional. Mereka menilai perlu ada klarifikasi apakah prosedur disipliner telah dijalankan sesuai ketentuan.
Spekulasi campur tangan politik
Sorotan utama adalah adanya indikasi kemungkinan campur tangan politik. Hubungan antara Infantino dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi fokus setelah Trump mengakui sempat berbicara dengan Infantino terkait kartu merah Balogun.
Trump disebut hanya meminta FIFA meninjau kembali keputusan tersebut dan menegaskan tidak meminta hasil tertentu. FIFA menegaskan bahwa pencabutan sanksi diambil oleh komite disiplin independen dan membantah adanya intervensi pihak luar.
Dampak pada tim nasional AS
Di luar kontroversi prosedural, hasil di lapangan tetap menentukan. Amerika Serikat, sebagai tuan rumah, tersingkir setelah kalah 1-4 dari Belgia pada babak 16 besar, sehingga pencabutan sanksi tidak mengubah bagiannya di turnamen.
Kasus ini menempatkan reputasi FIFA dan kepemimpinan Infantino dalam pengawasan ketat, sementara parlemen Eropa menuntut bukti transparansi dan akuntabilitas. Jika pengawasan formal dilancarkan, proses itu berpotensi mengungkap lebih jauh mekanisme pengambilan keputusan di tubuh sepak bola dunia.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
Indonesia Sabet 6 Medali di Taolu World Cup 2026
Timnas Wushu Indonesia meraih 1 emas, 4 perak, dan 1 perunggu di Taolu World Cup 2026 di Haikou, menutup kej...
Sinner Tantang Djokovic di Semifinal Wimbledon 2026
Jannik Sinner hadapi Novak Djokovic di semifinal Wimbledon 2026 pada 10 Juli; Sinner sebagai unggulan pertam...
Belgia Yakin Hadapi Spanyol di Perempat Final Piala Dunia 2026
Belgia hadapi Spanyol di perempat final Piala Dunia 2026 dengan kepercayaan diri tinggi, dipimpin persiapan...
Pemain Senior Masuk Timnas Voli Putra untuk SEA V Cup 2026
Timnas voli putra dilepas menuju SEA V Cup 2026; PBVSI berharap gelar Asia menjadi pemicu juara, dengan Farh...
Inggris Sudah Kantongi Cara Redam Haaland
Inggris disebut sudah mengantongi cara meredam Erling Haaland saat lawan Norwegia, dengan Tuchel dinilai pun...
Persebaya Gunakan VALD Performance untuk Pemetaan Kondisi Pemain
Persebaya memakai perangkat VALD Performance dan pemeriksaan medis terintegrasi untuk memetakan kondisi pema...