Panja Perfilman Dorong Film Jadi Instrumen Diplomasi Budaya
Komisi VII DPR RI melalui Panja Perfilman terus mengkaji peran film sebagai instrumen diplomasi budaya dan penggerak ekonomi kreatif. Pembahasan berlangsung melalui rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan berbagai pemangku kepentingan di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.
Rangka pembahasan dan pihak yang terlibat
Panja Perfilman menggelar serangkaian RDPU untuk menangkap aspirasi seluruh ekosistem perfilman. Pertemuan mempertemukan pelaku industri, pengelola bioskop, produser, dan platform distribusi film nonkonvensional.
- Pelaku industri film
- Pengelola bioskop
- Produser
- Platform distribusi nonkonvensional
Menurut Samuel Wattimena, masukan yang diterima membuka wawasan bahwa jangkauan industri film nasional lebih luas dari asumsi awal.
"Sudah cukup panjang pembahasannya, tetapi ternyata masih banyak komunitas perfilman yang perlu kami dengarkan. Ekosistem film ini sangat besar,"
— Samuel Wattimena, Anggota Komisi VII DPR RI
Fokus kebijakan: konten yang memperkuat identitas bangsa
Panja tidak hanya menyorot aspek teknis produksi. Perhatian utama diarahkan pada kualitas konten yang mampu menampilkan kebudayaan Indonesia secara otentik.
Samuel menekankan bahwa kapasitas teknis penting, tetapi nilai budaya dalam karyalah yang dapat memperkenalkan identitas bangsa ke luar negeri.
"Yang ingin kami dorong bukan sekadar kemampuan teknis membuat film, tetapi bagaimana kontennya mampu menghadirkan kebudayaan Indonesia. Salah satunya yang lebih kuat dan memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia,"
— Samuel Wattimena
Film sebagai diplomasi budaya dan penggerak ekonomi kreatif
Panja mengamati pengalaman internasional untuk merumuskan strategi yang tepat. Contoh Korea Selatan disebut sebagai bukti bahwa industri kreatif bisa memperkuat citra negara dan memberi manfaat ekonomi.
"Korea Selatan menunjukkan bahwa industri kreatif memiliki multiplier effect yang besar. Film bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memperkenalkan budaya, mendorong pariwisata, hingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian,"
— Samuel Wattimena
Dengan memadukan aspek budaya dan ekonomi, film dapat menjadi alat diplomasi lunak yang efektif sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku kreatif lokal.
Peran pemerintah dan langkah ke depan
Samuel mengakui industri film didominasi pelaku swasta sehingga pemerintah tidak bisa mengintervensi isi karya. Peran negara lebih pada menyediakan ruang dialog dan menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya karya berkualitas.
Panja akan melanjutkan serangkaian RDPU untuk mendengar lebih banyak komunitas perfilman dan merumuskan rekomendasi kebijakan. Tujuannya adalah menguatkan posisi film Indonesia di kancah global sekaligus memperkuat ekonomi kreatif nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Komdigi: Sanksi untuk Operator yang Tak Terapkan Verifikasi Biometrik
Komdigi mewajibkan verifikasi biometrik untuk registrasi SIM baru sejak 1 Juli 2026; operator yang tak patuh...
WALHI: Kebakaran TPA Jatiwaringin Picu Pencemaran Lindi dan Risiko Kesehatan
WALHI peringatkan kebakaran TPA Jatiwaringin memicu lindi beracun yang mengancam sumur warga dan ekosistem,...
Wamenkomdigi: Publikasikan Kisah Sukses Pemda untuk Pembangunan
Wamenkomdigi Nezar Patria meminta lebih banyak publikasi kisah sukses pemda untuk jadi inspirasi dan memperk...
MPR: Perbaikan SPMB dan Penguatan Integritas Dibutuhkan
Wakil Ketua MPR Lestari minta perbaikan SPMB dan penguatan budaya integritas usai 301 aduan SPMB 2026 demi m...
Wamenkomdigi: Compute Cluster Kunci Daya Saing AI Indonesia
Wamenkomdigi Nezar Patria menekankan pembangunan compute cluster nasional sebagai kunci memperkuat daya sain...
PP IPPAT: Regulasi Hambat Digitalisasi Layanan Pertanahan
PP IPPAT menilai aturan di Permen ATR 3/2023 dan proses alih media dokumen memperlambat digitalisasi layanan...