Megawati Buka Pameran Foto 'Meretas Jalan Demokrasi' di TIM
Jakarta — Presiden ke-5 RI dan Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, membuka pameran sejarah dan arsip foto bertajuk Meretas Jalan Demokrasi di Ruang Museum Koleksi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7). Pameran digelar sebagai rangkaian peringatan 30 tahun peristiwa 27 Juli 1996 atau dikenal sebagai Kudatuli.
Pembukaan dan prosesi
Megawati tiba di lokasi sekitar pukul 15.50 WIB mengenakan pakaian bernuansa merah lengkap dengan selendang batik. Ia didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto serta putranya, Ketua DPP PDI Perjuangan M. Prananda Prabowo.
Sebelum memasuki ruang pameran, rangkaian dimulai dengan prosesi gunting pita. Selanjutnya rombongan berjalan menyusuri galeri bersama jajaran pengurus DPP Partai.
Isi pameran: sejarah, foto, dan video
Pameran menampilkan perjalanan bangsa dari era 1965 hingga 1999, dengan fokus pada kepemimpinan Bung Karno, perjalanan politik Megawati, peristiwa Kudatuli, dan era Reformasi. Koleksi terdiri dari arsip foto, bingkai histori prestasi, serta tayangan video.
Di salah satu ruang ditayangkan video penyerbuan Kantor PDI, sementara dinding lain memuat foto-foto peristiwa penyerbuan dan kerusakan di Kantor PDI Jalan Diponegoro No. 58 Menteng.
Interaksi dan penjelasan sejarawan
Megawati mengamati setiap foto yang dipajang dan menerima penjelasan dari Kepala Badan Sejarah PDI, Bonnie Triyana. Ia tampak mengandeng putranya saat mendengar uraian arsip dan kronologi kejadian.
“Ini foto yang sangat ikonik dari perwarta foto saat itu,”
Keterangan tersebut merujuk pada foto Megawati yang diwawancarai wartawan setelah terpilih sebagai Ketua Umum PDI pada 1993.
Catatan korban dan dampak
Pameran juga menyajikan data korban serta dampak kekerasan yang terjadi pada 27 Juli 1996. Catatan Komnas HAM menjadi rujukan untuk angka-angka berikut.
| Keterangan | Jumlah |
|---|---|
| Tewas | 5 |
| Luka-luka | 149 |
| Hilang | 23 |
Penutup kunjungan
Sebelum meninggalkan ruang pameran, Megawati menuliskan pesan di salah satu panel akrilik dekat pintu keluar. Acara dilanjutkan dengan mendengar testimoni dari tiga tokoh pelaku sejarah Kudatuli.
Pameran ini mengingatkan kembali dinamika politik yang memicu penyerbuan markas pendukung Megawati oleh kubu lawan yang didukung oleh pemerintah Orde Baru. Penyajian arsip dan testimonia dimaksudkan untuk merefleksikan perjalanan demokrasi Indonesia dan menguatkan ingatan publik terhadap peristiwa tersebut.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
ASN dan Bupati Lukman Pimpin Kerja Bakti Percantik Kota Bangkalan
Pemkab Bangkalan mengerahkan ASN mengecat trotoar dan bersih-bersih Jalan Teuku Umar–Soekarno-Hatta pada 21...
Bupati Ngawi Siap Larang Anak di Bawah 17 Tahun Bawa Motor
Bupati Ngawi akan melarang anak di bawah 17 tahun mengendarai motor untuk menekan kecelakaan pelajar akibat...
Bupati Kediri Tinjau Lahan 55.000 m² untuk Hotel Haji di Dhoho
Bupati Kediri tinjau lahan 55.000 m² di Desa Kalipang untuk calon hotel haji pertama yang mendukung Bandara...
Komisi B Minta Pelibatan UMKM dalam Revitalisasi GOR Ganesha
Ketua Komisi B DPRD Batu minta pelibatan UMKM dan prioritas pedagang lama dalam revitalisasi GOR Ganesha aga...
Pelari Kenya Terdampar di Jember, Warga Galang Bantuan ke Jakarta
Pelari Kenya terdampar di Jember setelah aturan hadiah lomba hanya berlaku bagi warga Indonesia; warga dan r...
DPRD Dorong Pintu Air di Muara Kali Jagir untuk Atasi Banjir
DPRD Surabaya mendorong percepat pembangunan pintu air di muara Kali Jagir untuk mengatasi banjir rob, sambi...