Di Kubar, Asam Payang dan Toman Diolah Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Kutai Barat mendorong warga mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi lewat pelatihan keterampilan. Program ini, yang disampaikan oleh penggerak swadaya masyarakat DPMK, Theresia, bertujuan memaksimalkan bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan, terutama asam payang dan ikan toman (Selasa, 29 Juli 2026).
Pelatihan pengolahan asam payang
DPMK memberikan pelatihan mengolah asam payang menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual saat panen melimpah. Salah satu produk yang diajarkan adalah sirup asam payang, sehingga hasil kebun tidak menumpuk atau terbuang.
Selain produk utama, pelatihan juga menekankan pemanfaatan seluruh bagian buah agar menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga.
Pemanfaatan sisa hasil olahan
Theresia menjelaskan bahwa sisa pengolahan tidak dibiarkan terbuang, melainkan diolah kembali. Ampas asam payang misalnya, diajarkan menjadi bahan sambal sehingga nilai tambah lebih tinggi dan limbah berkurang.
"Jadi kita lebih memanfaatkan apa yang ada di sekitar rumah atau sekitar kampung itu, yang biasanya terbuang sia-sia, tapi kita gunakan,"
Inovasi olahan ikan toman
Selain buah lokal, DPMK juga fokus pada bahan protein seperti ikan toman. Melalui pelatihan, ikan toman diolah menjadi makanan siap konsumsi yang lebih menarik, seperti toman crispy. Targetnya adalah meningkatkan penerimaan produk lokal, termasuk oleh anak-anak yang selama ini kurang menyukai ikan tersebut.
"Ikan Toman itu, anak-anak juga kurang suka. Tapi kita melatih ibu-ibu itu membuat olahan makanan, seperti crispy dari toman. Ternyata katanya respon dari keluarga sangat baik sekali, anak-anak malah mau,"
Dampak dan harapan
Dengan pendekatan berbasis potensi lokal, DPMK berharap ibu rumah tangga dan masyarakat dapat mengembangkan keterampilan menjadi kegiatan produktif yang mendukung ekonomi keluarga. Inovasi pengolahan ini juga berpotensi memperluas pasar produk desa dan mengurangi pemborosan sumber daya lokal.
Ke depan, keberlanjutan pelatihan dan penerimaan pasar menjadi kunci agar produk olahan seperti sirup asam payang, sambal ampas, dan toman crispy bisa menjadi sumber penghasilan berkelanjutan bagi masyarakat Kutai Barat.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...