OJK: Likuiditas Perbankan Terjaga, Kredit UMKM Jadi Sorotan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Likuiditas dan pertumbuhan kredit
Friderica mengatakan kinerja likuiditas perbankan didukung oleh pertumbuhan kredit yang masih kuat hingga pertengahan 2026. Secara agregat, kredit perbankan tumbuh 11,5 persen menjadi sekitar Rp8.600 triliun. Kondisi ini dinilai mampu mempertahankan arus pembiayaan ke sektor riil.
Dengan peningkatan kredit, OJK melihat peran perbankan dalam menyalurkan dana ke pelaku usaha tetap signifikan. Selain itu, OJK terus mendorong langkah-langkah untuk memperdalam pasar keuangan agar sumber pembiayaan semakin beragam.
NPL tetap terkendali
Selain likuiditas dan pertumbuhan kredit, OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level yang terkendali. Hingga saat ini, NPL perbankan tercatat sebesar 2,17 persen, yang menurut OJK menunjukkan kondisi industri perbankan masih sehat.
Pengendalian NPL menjadi indikator kunci bagi stabilitas sistem keuangan karena mencerminkan kualitas aset perbankan. OJK menyatakan pemantauan terus dilakukan untuk menjaga rasio ini tetap rendah.
Sorotan pada pembiayaan UMKM
Meski kondisi makro perbankan dianggap sehat, Friderica mengakui masih ada tantangan, khususnya terkait akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Isu ini menjadi salah satu fokus dalam pertemuan dengan Komisi XI DPR RI.
"Tadi Bapak/Ibu anggota Komisi XI banyak mempertanyakan tentang kredit UMKM. Jadi, ini PR kita semua gimana nanti kredit UMKM bisa tumbuh,"
Ia menjelaskan OJK akan terus mendorong pertumbuhan kredit yang lebih inklusif demi meningkatkan keterjangkauan pembiayaan untuk UMKM. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pemulihan ekonomi dan mendorong penciptaan lapangan kerja.
Implikasi ke depan
Kondisi likuiditas yang terjaga dan NPL yang terkendali memberi ruang bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit, termasuk ke UMKM. Namun, keberlanjutan pertumbuhan kredit yang inklusif memerlukan koordinasi antara regulator, perbankan, dan pembuat kebijakan fiskal.
OJK menyampaikan akan terus mengawasi dan mendorong inisiatif yang memperdalam pasar keuangan serta mempermudah akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil agar manfaat pemulihan ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...