Ekonomi

Neraca Perdagangan April 2026 Surplus Tipis, Didorong Nonmigas

Bagikan:
Grafik neraca perdagangan Indonesia April 2026 menunjukkan surplus tipis dan dominasi nonmigas

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih surplus, namun jumlahnya menyusut tajam.

Pada April, surplus bulanan hanya USD90 juta, turun dari surplus USD3,23 miliar pada Maret 2026. Secara kumulatif, Januari–April 2026 neraca perdagangan mencatat surplus USD5,64 miliar, menurun dari USD11,07 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Gambaran umum April 2026

Surplus April menjadi yang terkecil sejak Mei 2020 dan memutus laju peningkatan besar pada kuartal awal tahun ini. Data itu disampaikan BPS pada 2 Juni 2026 di Jakarta.

"Surplus bulan April merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020, atau selama 72 bulan surplus berturut-turut,"

Perkembangan ini memicu perhatian karena mendorong penurunan akumulasi surplus di awal tahun.

Sumber surplus dan defisit

Perdagangan nonmigas menjadi penopang utama surplus. Nilai surplus nonmigas hingga April tercatat USD14,16 miliar. Sementara itu, sektor migas masih mencatat defisit sebesar USD8,52 miliar.

Komoditas nonmigas yang memberi kontribusi positif antara lain:

  • Lemak dan minyak hewan/nabati
  • Bahan bakar mineral
  • Besi dan baja

Kinerja ekspor dan pasar utama

Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–April 2026 mencapai USD92,15 miliar, meningkat 5,48 persen dibandingkan periode sama 2025. Kontribusi pasar ekspor nonmigas terpusat pada tiga negara utama.

"Tiga negara yang menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat dan India. Kontribusi tiga negara ini mencapai 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-April 2026,"

Ekspor ke Tiongkok mencapai USD22,76 miliar, dengan komoditas utama berupa besi dan baja, nikel, serta bahan bakar mineral.

Kinerja impor dan struktur impor

Impor Januari–April 2026 tercatat USD86,51 miliar, naik 13,40 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan impor didorong oleh kebutuhan barang modal, bahan baku/penolong, dan barang konsumsi.

Bahan baku/penolong mendominasi impor dengan nilai USD61,82 miliar, tumbuh 11,67 persen. Tiga negara asal impor nonmigas terbesar adalah Tiongkok, Jepang, dan Australia, yang bersama-sama menyumbang 53,13 persen dari total impor nonmigas.

Implikasi dan prospek

Surplus yang menyusut menandakan tekanan pada neraca luar negeri, khususnya dari sisi impor yang meningkat lebih cepat daripada ekspor. Namun, surplus nonmigas tetap menjadi penyangga penting.

Ke depan, pemulihan surplus bergantung pada kinerja ekspor komoditas utama dan penurunan defisit migas melalui pengelolaan impor energi dan peningkatan nilai tambah produk ekspor.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait