Nasional

Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir di Sukabumi Resmi Jadi Museum

Bagikan:
Bangunan rumah pengasingan Hatta dan Sjahrir di Sukabumi yang telah dipugar jadi museum

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan rumah pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir menjadi museum di kompleks Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lemdiklat Polri, Sukabumi, Minggu, 13 September 2026. Bangunan ini menyimpan ingatan pengasingan kedua tokoh sejak 3 Februari 1942 dan kini difungsikan untuk menguatkan pendidikan sejarah bagi generasi muda.

Peresmian dan sejarah singkat

Menurut keterangan pada peresmian, Bung Hatta dan Bung Sjahrir dipindahkan dari Banda Neira ke Sukabumi pada awal 1942 dan ditempatkan di lokasi ini selama 47 hari mulai 3 Februari 1942. Tempat itu juga menampung tokoh pergerakan lain seperti Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Iwa Kusuma Sumantri.

Jadi dari Banda Neira dibawa ke Sukabumi pada awal tahun 1942 dan ditempatkan di sini selama 47 hari, mulai dari tanggal 3 Februari 1942

Sejarah pengasingan ini berakhir menjelang masuknya Jepang ke wilayah Indonesia, yang berlangsung sebulan setelah periode pengasingan, setelah penyerahan kekuasaan Belanda di Kalijati pada 7 Maret 1942.

Pemugaran dan status cagar budaya

Bangunan dulunya berfungsi sebagai rumah dinas atau mess kepolisian dan mengalami kerusakan. Proses pemugaran dilakukan oleh tim kurator dari Direktorat Sejarah dan Permuseuman untuk mengembalikan bentuk fisik dan warna asli bangunan.

Pemugaran ini dilakukan melalui kerja sama lintas sektoral antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Sukabumi, pihak keluarga, dan jajaran kepolisian. Pemerintah kini sedang mengajukan kenaikan status situs dari cagar budaya tingkat kota menjadi cagar budaya nasional.

Reaksi keluarga dan makna historis

Peresmian menghadirkan suasana haru bagi keluarga kedua tokoh. Putri Bung Hatta, Meutia Farida Hatta, menyambut positif inisiatif perlindungan aset sejarah tersebut. Ia menekankan pentingnya pelestarian untuk membentuk karakter generasi penerus.

Di samping itu juga kita mengajak kembali anak-anak muda terutama mengenal bagian satu sisi sejarah. Khususnya yang dulu tidak diperhatikan tapi ini sangat penting dalam alur perjalanan bangsa kita

Putri Sutan Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir atau Upik Sjahrir, mengatakan bahwa Sukabumi ternyata menjadi titik krusial di peta pergerakan nasional ayahnya. Meski berstatus tahanan, kedua pemimpin itu masih menerima tamu dan menjalin hubungan dengan pejuang lain untuk merumuskan strategi dan konsolidasi.

Begitu kembali ke Sukabumi, mereka mulai menjalin kembali hubungan dengan pejuang-pejuang lain

Tokoh seperti Amir Sjarifuddin hingga kerabat Sjahrir tercatat berkunjung untuk berdiskusi di lokasi tersebut.

Dampak dan langkah ke depan

Pengubahan rumah pengasingan menjadi museum diharapkan menjadi aset pendidikan sejarah yang konkret. Selain memelihara jejak fisik perjalanan para pendiri bangsa, museum ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan sisi historis yang kurang dikenal kepada generasi muda.

Dengan upaya pendaftaran sebagai cagar budaya nasional, pemerintah membuka peluang perlindungan lebih kuat dan pengembangan program kuratorial yang dapat mendukung riset dan edukasi sejarah ke depan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait