BGN Perluas MBG Prioritas Daerah 3T, Sasar 15 Ribu Sekolah
Badan Gizi Nasional (BGN) memprioritaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), dengan target perluasan mencapai sekitar 15.000 sekolah di Maluku dan Papua, kata Kepala BGN Sudaryono pada Minggu, 13 September 2026.
Prioritas wilayah 3T dan fokus pada stunting
BGN menempatkan wilayah 3T dan area dengan prevalensi stunting tinggi sebagai sasaran utama. Perluasan MBG dilakukan bertahap berdasarkan pemetaan kebutuhan sekolah dan kondisi daerah.
Langkah bertahap ini dimaksudkan agar penambahan penerima program sesuai dengan kesiapan lokal dan kebutuhan nyata, sehingga program berjalan efektif.
Target Maluku dan Papua
Menurut data internal BGN, ada sekitar 15 ribu sekolah di Maluku dan Papua yang belum menerima layanan MBG. Oleh karena itu, kedua provinsi ini menjadi fokus dalam rencana ekspansi.
Untuk mencapai pemerataan layanan, BGN berencana membuka dapur SPPG secara bertahap di wilayah prioritas. Pembukaan dapur akan disesuaikan dengan peta kebutuhan dan kesiapan operasional di setiap daerah.
Prinsip pelaksanaan: keamanan, efisiensi, dan ketepatan sasaran
BGN menekankan bahwa penambahan penerima tidak sekadar mengejar angka, melainkan harus memperhatikan aspek keamanan gizi, efisiensi distribusi, dan ketepatan sasaran.
“Prioritas kami tentu saja sekolah-sekolah atau satuan pendidikan di wilayah 3T,”
“Serta wilayah-wilayah lain yang angka stuntingnya tinggi dan tinggi sekali,”
“Kami tidak hanya mengejar peningkatan jumlah penerima, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keamanan, efisiensi, dan ketepatan sasaran,”
Sudaryono menambahkan bahwa pembukaan SPPG akan disesuaikan dengan kebutuhan riil setiap wilayah dan kemampuan daerah mendukung pelaksanaan.
Penataan penerima MBG dan alokasi sumber daya
Dalam rangka mengarahkan manfaat kepada yang paling membutuhkan, BGN telah menata kembali daftar penerima MBG. Sebanyak 1.653 satuan pendidikan dikeluarkan dari daftar penerima karena dinilai mampu secara finansial.
Sekolah yang dikeluarkan umumnya berstatus internasional dan tidak tergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengalihkan sumber daya ke sekolah dan wilayah yang lebih rawan kekurangan gizi.
Dengan skema pemetaan, penataan penerima, dan pembukaan dapur SPPG bertahap, BGN berharap perluasan MBG mendorong pemerataan layanan gizi sekolah, khususnya di wilayah 3T dan provinsi dengan beban stunting tinggi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Karhutla Sungai Aur Capai 20 Ha, Tim Gabungan Terus Pendinginan
Karhutla di Desa Sungai Aur, Muaro Jambi, mencapai sekitar 20 ha; tim gabungan melakukan pemadaman dan pendi...
Gempa Susulan Flores Capai 15.156 Kali, Terbesar M6,2
BMKG mencatat 15.156 gempa susulan di Flores hingga 13 Sept 2026; terbesar M6,2. Warga diminta tenang, jauhi...
Semeru Meletus Lagi, Kolom Abu 700 m saat Status Siaga
Gunung Semeru meletus 13 Sep 2026, kolom abu 700 m; PVMBG peringatkan zona larangan dan risiko awan panas se...
Kapolri Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional
Kapolri Listyo Sigit hadir pada pembukaan pameran Nasirun "Bersimpuh di Kaki Para Guru" di Galeri Nasional,...
Kemensos, BPS dan Celios Bahas Polemik Desil dan Ketepatan Bansos
Kemensos, BPS, dan Celios menggelar diskusi di Jakarta (11 Sep 2026) untuk membahas polemik desil, keterbata...
Kemensos Siapkan PPSE Rp5 Juta per Keluarga untuk Klungkung
Kemensos siapkan PPSE untuk Klungkung dengan dukungan modal Rp5 juta per keluarga untuk mengembangkan usaha...