Munas-Konbes NU 2026 Bahas Kepemimpinan dan Masa Depan Organisasi
Munas dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes) 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, pada 21 Juni 2026, membahas arah kepemimpinan dan masa depan organisasi. Forum itu menyoroti mekanisme pemilihan pemimpin, penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, pengembangan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk dakwah.
Prinsip tetap dan ruang adaptasi
Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhadjir menegaskan NU memiliki nilai-nilai dasar yang mustahil diubah oleh zaman. Ia membedakan antara prinsip yang bersifat permanen dan hal-hal yang dapat disesuaikan dengan kondisi.
Hal-hal yang harga mati sudah barang tentu tidak bisa berubah karena perubahan situasi dan kondisi. Sementara yang bisa beradaptasi, bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi
Afifuddin menyebut beberapa elemen permanen, antara lain Qanun Asasi, posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan, Pancasila sebagai dasar organisasi, dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah.
Mekanisme pemilihan: musyawarah sebagai landasan
Delegasi Munas-Konbes menekankan bahwa mekanisme pemilihan pemimpin dapat dikembangkan, namun harus tetap berlandaskan musyawarah. Forum mengingatkan tradisi musyawarah sebagai prinsip yang diajarkan Nabi dalam menyelesaikan urusan umat.
Dalam hal sekecil apa pun Nabi diperintahkan untuk musyawarah. Apalagi dalam persoalan besar seperti pemilihan pemimpin
Teknologi, generasi muda, dan strategi dakwah
Ketua PBNU KH Anwar Iskandar menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan memperkuat pendidikan keagamaan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan digital kini tak terhindarkan dan memengaruhi seluruh lapisan masyarakat.
Kita tidak bisa mengingkari, lepas dari kehidupan digital ini. Tidak seorang pun yang bisa bebas dari dunia digital
Anwar menyoroti peran generasi muda yang tumbuh di era digital sebagai penentu masa depan agama, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, NU perlu menyusun strategi agar teknologi mendukung penguatan ideologi dan ajaran organisasi.
Penguatan sumber daya dan filantropi
Delegasi juga membahas konsolidasi potensi sumber daya manusia warga NU untuk memperbesar kontribusi terhadap pembangunan nasional. Potensi itu harus dikoordinasikan agar berdaya guna.
- Profesional
- Akademisi
- Pengusaha
- Tenaga kesehatan
- Ahli teknologi informasi
Selain itu, penguatan lembaga filantropi NU dan pengembangan pendidikan menjadi agenda penting agar organisasi lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Dengan berbagai rumusan tersebut, Munas-Konbes 2026 diharapkan menghasilkan kebijakan yang memperkuat peran NU dalam menjaga ideologi, membentuk kepemimpinan, dan memanfaatkan teknologi untuk keberlanjutan organisasi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Wapres Dorong Museum Asmat Jadi Pusat Diplomasi Budaya Papua
Wapres Gibran dorong Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat dikembangkan sebagai sarana diplomasi budaya Papua...
Menkopangan Targetkan 80% Masalah Sampah Tuntas pada 2029
Zulkifli Hasan menargetkan 70–80% persoalan sampah tuntas pada 2029 lewat PSEL dan gerakan pilah sampah dari...
Rendi Dapat Kaki Palsu dari Kemensos, Harapan Baru di Gowa
Kemensos menyerahkan kaki palsu kepada Rendi, korban serangan buaya di Gowa, dalam Bakti Sosial Terintegrasi...
Komisi II Dorong Penguatan Infrastruktur dan Ekonomi Perbatasan
Komisi II DPR mendesak BNPP memperkuat pengelolaan perbatasan Indonesia–Timor Leste lewat layanan publik, ko...
Festival Anak Pancasila Perkuat Karakter Generasi Muda
Festival Anak Pancasila (21 Juni 2026) memperkuat karakter anak lewat seni, budaya, dan pengalaman kebangsaa...
Wapres Janjikan Kenaikan Status RSUD Perpetua Asmat Jadi Tipe C
Wapres Gibran meninjau RSUD Perpetua Asmat dan menjanjikan percepatan kenaikan status menjadi tipe C untuk m...