MSCI Coret 18 Saham, DPR Minta BEI Benahi Pasar Modal
Anggota Komisi XI DPR Marwan Jafar mendesak Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembenahan ekosistem pasar modal setelah MSCI menghapus 18 saham Indonesia dalam rebalancing Mei 2026. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2026, menyusul pengumuman MSCI pada 13 Mei 2026.
Kronologi penghapusan saham oleh MSCI
MSCI mengumumkan hasil index review periode Mei 2026 yang mengejutkan pelaku pasar. Perubahan akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.
Dalam penyesuaian tersebut, enam saham dicoret dari MSCI Global Standard Indexes, sementara 13 saham dihapus dari MSCI Small Cap Indexes. Selain itu, satu emiten dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes.
- Keluar dari MSCI Global Standard Indexes: AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT (AMRT dipindahkan ke Small Cap)
- Dihapus dari MSCI Small Cap Indexes: ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, TKIM, APIC, SSMS, TPAG, MSIN
Risiko terhadap pasar saham domestik
Marwan memperingatkan pencoretan massal ini bisa memicu tekanan pada pasar saham Indonesia. Ia menyoroti potensi arus keluar modal asing yang besar dan penurunan daya tarik investasi internasional.
"Jika tidak segera dimitigasi, dikhawatirkan akan terjadi arus keluar dana asing (capital outflow) yang massif. Situasi ini pada akhirnya dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta stabilitas keuangan nasional secara keseluruhan,"
Tuntutan pembenahan BEI
Politikus PKB itu menekankan BEI dan pihak terkait harus bergerak cepat. Fokus utama menurutnya adalah memperbaiki transparansi kepemilikan saham dan meningkatkan porsi saham beredar di publik atau free float.
"Ada 18 saham asal Indonesia yang dicoret dari Indeks MSCI. Pemerintah dan BEI harus bergerak cepat melakukan pembenahan,"
Marwan menilai kredibilitas pasar modal bergantung pada tata kelola emiten dan ekosistem bursa yang sehat. Ia berharap keputusan MSCI menjadi titik tolak reformasi menyeluruh.
Dampak jangka pendek dan prospek
Meskipun berada dalam tekanan, Marwan optimistis fundamental pasar saham Indonesia tetap baik. Ia menunggu langkah konkret dari otoritas bursa untuk meredam gejolak dan menjaga aliran modal asing.
"Kita optimistis gejolak pasar bisa segera stabil. Sehingga bisa mencegah dana asing agar tetap stay di Indonesia,"
Ke depan, penguatan transparansi, peningkatan free float, dan perbaikan tata kelola emiten menjadi kunci agar pasar modal domestik lebih tahan terhadap penilaian indeks global seperti MSCI.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp10.000, Grafik Kembali Hijau
Harga emas Antam 24 karat menguat pada 27 Juli 2026 menjadi Rp2.622.000/gram; buyback Rp2.370.000 dan PPh 22...
Brainstorming Brand: Cara Efektif Kembangkan Identitas dan Bisnis
Brainstorming brand membantu pelaku usaha menemukan ide, memperkuat identitas, dan menyelaraskan strategi bi...
Harga Cabe Rawit di Singkil Tembus Rp70 Ribu
Harga cabe rawit di Pasar Lae Butar, Aceh Singkil melonjak menjadi Rp70.000/kg; beberapa kebutuhan pokok jug...
Harga Timun di Purbalingga Melonjak Dua Kali Lipat
Harga timun di Purbalingga naik dari Rp5.000 menjadi Rp13.000–15.000/kg, menekan keuntungan pedagang lokal.
Bank Mandiri Buka Cabang di Bagansiapiapi, Perkuat UMKM Rohil
Bank Mandiri meresmikan cabang baru di Bagansiapiapi, Rohil, 27 Juli 2026 untuk memperluas layanan dan mempe...
Danantara Dilibatkan dalam Keputusan KSSK atas Arahan Presiden
Presiden minta Danantara dilibatkan dalam keputusan KSSK agar kebijakan berdampak langsung pada perekonomian...