Bapanas Mobilisasi Stok Cabai Rawit Tekan Harga
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memobilisasi stok cabai rawit untuk menekan lonjakan harga yang terjadi di beberapa wilayah. Langkah ini dilakukan melalui skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dan mulai dijalankan setelah pemantauan harga per 11 September 2026.
Langkah cepat Bapanas
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan FDP perlu segera diterapkan untuk merespons dinamika harga cabai rawit. Bapanas akan memindahkan pasokan dari daerah surplus ke daerah yang mengalami kenaikan harga.
Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons.
Skema ini akan dijalankan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk menentukan wilayah tujuan distribusi. Selain itu, Bapanas kembali melibatkan petani Champion Cabai binaan Kementan sebagai sumber pasokan.
Realisasi dan rute distribusi
Pada triwulan pertama 2026, program FDP cabai rawit tercatat telah memobilisasi 5.590 kilogram dari daerah surplus. Distribusi sebelumnya mencakup pengiriman dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, serta pengiriman ke Lombok Tengah dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Data harga dan proyeksi produksi
Berdasarkan pantauan Bapanas per 10 September, rata-rata harga cabai rawit nasional mencapai Rp81.052 per kilogram. Namun ada perbedaan antarwilayah yang signifikan.
| Lokasi | Harga (Rp/kg) |
|---|---|
| Rata-rata Nasional | 81.052 |
| Sulawesi Utara | 152.872 |
| Nusa Tenggara Timur | 56.604 |
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, memastikan produksi cabai rawit nasional masih aman hingga akhir tahun. Produksi pada September diperkirakan mencapai sekitar 119 ribu ton. Menurut Sudi, pasokan dari petani binaan dapat dimobilisasi jika koordinasi pelaksanaan distribusi berjalan lancar.
Penyebab fluktuasi dan dampak
Bapanas mencatat beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi harga cabai rawit. Faktor utama meliputi kemarau berkepanjangan, serangan organisme pengganggu tanaman, dan alih tanam ke komoditas lain.
- Kemarau berkepanjangan yang menekan pasokan
- Organisme pengganggu tanaman mengurangi hasil panen
- Alih tanam oleh petani ke komoditas lain
Dengan memobilisasi stok dari daerah surplus dan melibatkan petani binaan, Bapanas berharap mampu menstabilkan pasokan dan meredam lonjakan harga dalam jangka pendek. Ke depan, koordinasi antarinstansi dan pengawasan pasokan akan menjadi kunci agar harga tetap terkendali hingga panen berikutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...