Pansus DPR Dorong Aturan Khusus untuk Daerah Kepulauan
Ketua Tim Kunjungan Kerja Pansus RUU tentang Daerah Kepulauan DPR RI, Herry Dermawan, mendorong pengaturan khusus bagi daerah kepulauan untuk mewujudkan pemerataan pelayanan dan pembangunan. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja spesifik Pansus ke Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Jumat, 11 September 2026, dengan tujuan memasukkan kebutuhan wilayah kepulauan ke dalam rumusan RUU.
Kekhususan wilayah kepulauan
Herry menjelaskan daerah kepulauan memiliki karakteristik geografis yang berbeda dan memerlukan model tata kelola serta manajemen administrasi khusus. Perbedaan itu berdampak pada jangkauan pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di pulau-pulau terisolir.
Menurut Herry, pengaturan standar yang seragam tidak selalu cocok bagi wilayah yang tersebar di banyak pulau. Oleh karena itu, RUU harus mengakomodasi pendekatan yang fleksibel dan berbasis kepulauan.
Kekhususan tersebut tampak pada perbedaan karakteristik wilayah yang menuntut model pembangunan berbeda. Manajemen administrasi pemerintahan berbasis kepulauan, pelayanan publik yang harus menjangkau pulau-pulau terisolir, keterlambatan pembangunan infrastruktur, kebutuhan pendekatan ganda
Partisipasi publik sebagai bagian penting
Pansus menempatkan partisipasi publik sebagai unsur penting dalam penyusunan RUU. Kunjungan kerja ke NTB dimaksudkan untuk mengumpulkan masukan dari pemangku kepentingan lokal, termasuk pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan pelaku layanan publik.
Partisipasi publik bukan sekadar mendengarkan pendapat, tetapi juga memastikan setiap masukan dipertimbangkan dan mendapatkan penjelasan atau jawaban. Dengan begitu, aspirasi dari daerah dapat benar-benar memberikan kontribusi terhadap substansi RUU tentang Daerah Kepulauan
Proses legislasi dan implikasi kebijakan
RUU tentang Daerah Kepulauan merupakan inisiatif DPD RI. Pemerintah telah menugaskan sejumlah kementerian untuk mewakili posisi eksekutif dalam pembahasan. Seluruh masukan dari kunjungan kerja akan menjadi bahan merumuskan norma substantif RUU.
Herry menegaskan bahwa pengaturan khusus tidak hanya relevan secara geografis dan ekologis, tetapi juga mendukung amanat konstitusi untuk keadilan dan pemerataan pembangunan. Rancangan aturan diharapkan mampu mengurangi kesenjangan layanan antarpulau dan mempercepat akses infrastruktur dasar.
Dengan demikian, pengaturan khusus bagi daerah kepulauan bukan hanya relevan secara geografis dan ekologis. Tetapi juga merupakan amanat konstitusi untuk mewujudkan keadilan, pemerataan pembangunan, dan perlindungan bagi seluruh rakyat Indonesia
Seluruh masukan yang terkumpul akan dirumuskan menjadi norma yang konkret dan aplikatif. Jika dirumuskan dengan baik, beleid baru dapat mendorong pemerataan layanan dan memperkuat perlindungan bagi masyarakat di pulau-pulau terisolir.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...