Mentan Amran: Siap Rugi, Siap Jadi Pengusaha Besar
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong generasi muda berani menanggung risiko dan kegagalan jika ingin sukses sebagai pengusaha, khususnya di sektor pertanian. Pernyataan itu disampaikan saat Pelantikan dan Rapat Kerja Nasional Pengusaha Tani Indonesia (PTI) di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa 21 Juli 2026.
Inti pesan: keberanian menghadapi kerugian
Amran menegaskan bahwa merasakan kerugian adalah bagian dari proses menuju keberhasilan. Ia menyebut wirausaha perlu siap merugi minimal lima sampai sepuluh tahun sebelum meraih keuntungan yang berlipat.
“Kalau mau menjadi pengusaha, yang Anda tunggu adalah rugi dulu. Minimal lima sampai sepuluh tahun. Begitu untung, hasilnya bisa berlipat. Siap rugi berarti siap jadi konglomerat,”
Menurutnya, kegagalan bukan akhir, melainkan guru terbaik yang membentuk karakter dan ketangguhan pengusaha.
Pertanian: peluang besar bila dikelola modern
Amran menepis anggapan bahwa pertanian tidak menarik bagi anak muda. Ia menyatakan hampir 80 persen konglomerat Indonesia bergerak di sektor berbasis pertanian, dari pangan hingga industri pengolahan.
“Artinya, pertanian adalah sektor yang menjanjikan jika dikelola dengan kerja keras, inovasi, dan keberanian mengambil risiko,”
Dengan transisi menuju pertanian modern, Amran yakin makin banyak wirausaha besar akan lahir dari sektor ini.
Peran PTI dan langkah konkret
Amran mendorong Pengusaha Tani Indonesia menjadi wadah lahirnya wirausaha muda dan penggerak regenerasi petani. Ia mengajak anggota PTI memanfaatkan lahan tidur dan mengembangkan model pertanian berbasis teknologi.
- Memanfaatkan lahan produktif yang belum tergarap
- Mengembangkan kawasan percontohan berbasis teknologi
- Menciptakan peluang ekonomi di pedesaan
“Bangunkan lahan tidur, hidupkan pemuda, hidupkan desa. Jadilah teladan,”
Kementerian Pertanian berjanji mendampingi melalui pemanfaatan teknologi modern dan pengembangan kawasan percontohan untuk mempercepat munculnya wirausaha muda di sektor pertanian.
Karakter sebagai modal utama
Amran menutup arahannya dengan menekankan pentingnya karakter: keberanian menghadapi kegagalan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah. Ia mengingatkan bahwa kehilangan uang tidak sebesar kehilangan karakter.
“Kalau kehilangan uang, Anda tidak kehilangan apa-apa. Kalau kehilangan semangat, Anda kehilangan sesuatu. Tetapi kalau kehilangan karakter, Anda kehilangan segalanya. Karakter itulah yang akan membawa seseorang menjadi pemimpin dan pengusaha yang sukses,”
Dengan pendekatan tersebut, Amran berharap PTI dan Kementan dapat memperkuat regenerasi petani dan meningkatkan daya saing pertanian menuju Indonesia Emas 2045.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Kemendag: 59 Business Matching Hasilkan Ekspor ke Korea
Kemendag catat 59 business matching Atase Perdagangan Seoul hasilkan ekspor dan peluang transaksi ke Korea S...
KAI Services Amankan Pasokan Makanan untuk Penumpang
KAI Services mengamankan pasokan makanan penumpang lewat distribusi ketat dari gudang ke stasiun agar kenyam...
Rupiah Menguat ke Rp17.888, Didukung Penurunan Indeks Dolar dan Masuknya Modal Asing
Rupiah menguat ke Rp17.888 per dolar, didorong pelemahan indeks dolar, arus modal asing, dan sentimen harga...
Diskon 30% KAI Dimanfaatkan 1,3 Juta Penumpang Selama Libur Sekolah
KAI mencatat 1,3 juta pelanggan memanfaatkan diskon 30% pada 20 Juni–5 Juli 2026, mendorong total 3,45 juta...
KAI dan INKA Mulai Integrasi untuk Perkuat Industri Kereta Api
KAI dan INKA resmi memulai integrasi strategis pada 21 Juli 2026 untuk menyelaraskan kebutuhan operator deng...
Menkeu: Defisit APBN Semester I 2026 Terkendali, Stabilitas Terjaga
Menkeu Purbaya menyatakan defisit APBN Semester I 2026 sebesar Rp196,5 triliun (0,76% PDB) terkendali dan me...