Lokal

17 Siswa Keracunan MBG di Medan, Penyebab Masih Diselidiki

Bagikan:
Ilustrasi siswa dan makanan sekolah yang dibagikan di program MBG

Medan – Sebanyak 17 siswa SD Negeri 060870 Medan dilarikan ke rumah sakit setelah mengeluh mual, muntah, dan sakit perut usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah pada Jumat (9/10). Hingga kini penyebab pasti belum diumumkan; Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ditutup oleh Badan Gizi Nasional (BGN) Sumut sementara investigasi dan uji laboratorium berlangsung.

Kronologi kejadian

Pada Jumat (9/10) siswa mengonsumsi paket MBG yang dibagikan di sekolah. Belasan siswa kemudian mengalami keluhan gastrointestinal dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Imelda Kota Medan untuk mendapat pengobatan.

Dari 17 siswa yang dirawat, 11 diperbolehkan pulang setelah kondisinya stabil. Enam lainnya masih dipantau di rumah sakit. Hasil pemeriksaan lanjutan, termasuk uji laboratorium terhadap sampel makanan, menjadi kunci untuk menentukan penyebab kejadian.

Tindakan sementara dan investigasi

BGN Sumut menutup sementara SPPG yang menyediakan makanan tersebut sebagai langkah pencegahan. Penutupan itu bersifat administratif sambil menunggu hasil pemeriksaan. Pihak berwenang belum mengumumkan kapan hasil laboratorium akan dipublikasikan.

Tanggapan politik dan tuntutan transparansi

Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut dan anggota DPR RI, Rapidin Simbolon, meminta agar kasus tidak dipandang remeh dan menuntut keterbukaan penyebab serta pertanggungjawaban bila ditemukan kelalaian.

'Kalau sampai 17 anak mengalami mual dan muntah setelah mengonsumsi MBG, ini bukan persoalan yang bisa dianggap sepele,'

Rapidin menegaskan penanganan tidak boleh berhenti hanya pada penutupan SPPG, melainkan harus menyasar akar penyebab dan pihak yang bertanggung jawab.

Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Sumut, Sutrisno Pangaribuan, menekankan pentingnya penerapan prosedur keamanan pangan yang nyata, bukan sekadar dokumen administratif.

'Jangan hanya sibuk memastikan makanan sampai ke sekolah, tetapi lupa memastikan makanan itu aman untuk dikonsumsi,'

Poin pengawasan keamanan pangan

Pihak partai politik yang menyoroti kasus ini menyebut sejumlah aspek yang harus diawasi ketat, di antaranya:

  • Kualitas bahan baku
  • Proses pengolahan dan kebersihan
  • Penyimpanan dan distribusi makanan
  • Pengujian laboratorium dan transparansi hasil

Implikasi dan langkah ke depan

Para pengawas menegaskan keselamatan anak harus menjadi prioritas di atas target kuantitas program. Kasus ini, menurut mereka, tidak boleh selesai hanya pada perawatan korban dan penutupan sementara SPPG; harus ada kepastian penyebab dan pertanggungjawaban bila terjadi pelanggaran.

Publik menunggu hasil investigasi resmi dan laporan laboratorium yang dapat menjelaskan apakah penyebabnya terkait kontaminasi bahan, kesalahan pengolahan, atau faktor lain.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait