LPDB Perkuat Inkubasi KDKMP di Papua untuk Naik Kelas
LPDB Koperasi menggelar pelatihan inkubasi bagi 15 tenant Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Jayapura, Jumat (31/7). Kegiatan bertujuan memperkuat tata kelola, kesiapan bisnis, dan akses pembiayaan agar koperasi di Papua menjadi lebih profesional dan bankable.
Program dan tujuan
LPDB menegaskan program inkubasi bukan sekadar pelatihan, melainkan proses membangun fondasi kelembagaan koperasi. Fokusnya adalah menyiapkan koperasi agar memiliki tata kelola yang baik, rencana bisnis yang layak, serta kemampuan mengakses pembiayaan dana bergulir.
LPDB menyusun tiga fokus utama sebagai ekosistem terintegrasi:
- Penyaluran pembiayaan
- Pendampingan
- Inkubasi kelembagaan
Pelatihan dan peserta
Kegiatan di Jayapura merupakan kolaborasi LPDB dengan Universitas Ottow Geissler Papua. Pelatihan diikuti 15 KDKMP yang bergerak pada sektor riil. Materi dikembangkan berdasarkan kebutuhan lapangan, seperti tata kelola, rencana bisnis, pembukuan, dan strategi mengakses pembiayaan.
Papua disebut memiliki potensi ekonomi besar di beberapa sektor yang perlu dikelola koperasi:
- Pertanian dan perkebunan
- Kelautan dan perikanan
- Pariwisata berbasis kearifan lokal
Kutipan narasumber
“Target utama program inkubasi adalah menyiapkan koperasi agar memiliki tata kelola yang baik, bisnis yang layak, dan siap mengakses pembiayaan dana bergulir LPDB Koperasi. Kami ingin KDKMP di Papua menjadi koperasi yang sehat, unggul, bankable, dan mampu naik kelas sehingga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat di daerahnya,”
— Deva Rachman, Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan LPDB Koperasi. Tahun ini kami fokus menginkubasi 15 KDKMP yang bergerak di sektor riil. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan koperasi, mulai dari tata kelola, rencana bisnis, pembukuan, hingga akses pembiayaan,”
— Moses Yomunga, Kepala Pusat Inkubasi Bisnis Universitas Ottow Geissler Papua.
“Kehadiran LPDB membuat kami merasa sangat terbantu. Wawasan kami terbuka bahwa koperasi tidak berjalan sendiri, tetapi memiliki akses pendampingan dan pembiayaan. Ini memberi kami semangat, motivasi, dan keyakinan untuk menjalankan usaha koperasi serta menjawab kebutuhan masyarakat,”
— Erick Kawali, Sekretaris KDKMP Kampung Nendali, Kabupaten Jayapura.
Dampak dan prospek
Pihak penyelenggara berharap 15 KDKMP tersebut menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain di Papua. Program ini dirancang agar tidak berhenti pada pelatihan singkat, melainkan berlanjut ke pendampingan jangka panjang untuk memperkuat manajemen dan akses modal koperasi.
Dengan tata kelola yang lebih baik dan akses pembiayaan yang memadai, LPDB menilai koperasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua secara berkelanjutan.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...