DPR Dukung Larangan SKM di MBG, BGN Wajibkan Susu 80%
DPR RI menyatakan mendukung kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang melarang penggunaan susu kental manis (SKM) dan minuman rasa susu dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dukungan itu disampaikan anggota Komisi IV DPR, Daniel Johan, pada Kamis, 10 September 2026, setelah rapat koordinasi BGN pada 8 September 2026.
Dukungan DPR dan alasan perubahan
Anggota Komisi IV, Daniel Johan, menilai SKM tidak setara dengan susu sebagai sumber gizi. Menurutnya, penataan ulang produk susu dalam MBG diperlukan agar manfaat gizi sesuai standar.
"Ini perbaikan tata kelola MBG yang sangat penting karena SKM itu bukan susu," kata Daniel kepada wartawan.
Isi aturan BGN
BGN memutuskan melarang penggunaan produk seperti minuman susu, minuman mengandung susu, minuman rasa susu, dan susu kental manis dalam menu MBG. Sebagai pengganti, BGN merekomendasikan pemberian susu hewani dengan komposisi susu segar yang jelas.
"BGN secara tegas melarang penggunaan produk minuman susu, minuman mengandung susu, minuman rasa susu, maupun susu kental manis dalam menu MBG," tulis BGN melalui akun @badangizinasional.ri.
Kelompok penerima dan jenis susu yang direkomendasikan
BGN menyebut kelompok penerima MBG meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita di atas dua tahun, serta seluruh peserta didik. Untuk memenuhi standar gizi, ada tiga jenis susu yang direkomendasikan:
- Susu pasteurisasi
- Susu UHT
- Susu steril full cream plain
Produk susu yang digunakan tidak boleh ditambahkan gula, pengawet, perasa, maupun pewarna. Selain itu, susu harus memiliki kandungan susu segar minimal 80 persen dan memiliki izin edar resmi dari BPOM.
Persyaratan keamanan pangan
Daniel menekankan pentingnya aspek keselamatan dan keamanan pangan. Ia meminta proses pengolahan dan distribusi susu dipastikan aman sebelum mencapai penerima manfaat.
"Perlu untuk memastikan susu hewani tersebut aman untuk dikonsumsi dan sudah melalui proses pasteurisasi," ujar Daniel.
BGN juga mensyaratkan penanganan produk pasteurisasi wajib menggunakan sistem rantai dingin (cold chain) dari fasilitas produksi hingga penerima manfaat.
Dampak pada peternak dan prospek ke depan
Daniel memandang kebijakan minimal 80 persen kandungan susu segar dapat memberi efek positif bagi industri susu domestik. Kebijakan ini diharapkan memperkuat sektor peternakan rakyat dan membuka peluang pasar bagi peternak lokal.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa dukungan hanya akan diberikan jika aspek keamanan pangan tetap menjadi prioritas. Dengan syarat tersebut, kebijakan dapat sekaligus memenuhi tujuan gizi publik dan mendorong manfaat ekonomi bagi peternak dalam negeri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...