Rano Karno Ingatkan 30 Tahun Kudatuli: Jangan Lupa Sejarah
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyerukan agar bangsa tidak melupakan Tragedi Kudatuli 27 Juli 1996 dan mengakui utang moral kepada korban.
JAKARTA — Sambutan Rano Karno menjadi momen sentral dalam peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli yang berlangsung dalam Public Lecture bertajuk "Jalan Buntu Reformasi" di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (18/7/2026). Ia mengaitkan perjalanan politik dan kariernya dengan perjuangan para korban yang mempertahankan demokrasi pada 27 Juli 1996.
Pidato pribadi yang menghubungkan seni dan politik
Rano membuka pidato dengan pengakuan sederhana: ia pulang ke rumah kebudayaan yang membesarkan perjalanan seninya dan membawa utang moral kepada mereka yang mempertahankan demokrasi. Menurutnya, tokoh "Si Doel" yang melekat padanya bukan hanya cerita keluarga, melainkan cerita politik yang tumbuh bersama rakyat kecil.
"Banyak orang mengenal saya sebagai Si Doel. Dulu saya kira itu hanya cerita keluarga. Makin tua saya makin sadar, Si Doel itu cerita politik,"
Ia menegaskan bahwa sinetron yang dicintai publik tampil di era ketika di dunia nyata banyak warga yang menginginkan perubahan justru menghadapi tekanan kekuasaan.
"Sinetron itu tayang pada tahun-tahun ketika di dunia nyata orang-orang kecil yang percaya pada perubahan sedang dikepung,"
Siapa yang bertahan di Diponegoro dan arti perjuangan mereka
Rano mengingatkan publik bahwa mereka yang bertahan di Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro bukanlah elit atau pemegang kekuasaan, melainkan warga biasa yang mempertaruhkan keselamatan demi keyakinan politik. Ia menyinggung kekerasan yang menimpa para pendukung PDI dan nasib keluarga korban yang hingga kini masih menunggu keadilan.
"Orang-orang yang bertahan di dalamnya bukan jenderal, bukan orang kaya, bukan elite. Mereka dipukuli, ada yang hilang, dan sampai hari ini keluarganya masih menunggu keadilan,"
Meski bukan korban langsung, Rano merasa berutang kepada mereka karena perjalanan politiknya berkembang dalam lingkungan politik yang lahir dari peristiwa itu.
"Saya tidak berhak memakai penderitaan mereka sebagai jubah. Tapi justru karena itu saya merasa berutang,"
Ia menegaskan pula hubungan antara PDI Perjuangan dan peristiwa tersebut, menyatakan bahwa partai yang membesarkan dirinya lahir dari rahim peristiwa yang memperjuangkan ruang demokrasi.
"Partai yang membesarkan saya, PDI Perjuangan, lahir dari rahim peristiwa itu. Demokrasi yang memungkinkan seorang seniman dipilih rakyat dibayar dengan tubuh orang-orang yang bertahan di Diponegoro,"
Pesan untuk generasi kini dan ancaman lupa
Di penghujung pidato, Rano mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap demokrasi hari ini bukan hanya kekerasan fisik, melainkan hilangnya ingatan kolektif. Ia mengajak bangsa untuk menjaga kenangan kolektif agar sejarah kelam tidak berulang.
"Hari ini mungkin pesan itu perlu kita lengkapi: lawan lupa, lawan jalan buntu, lawan diri sendiri ketika mulai nyaman dengan ketidakadilan,"
Tiga puluh tahun setelah Kudatuli, pidato Rano berfungsi sebagai pengingat bahwa demokrasi sering kali dibangun oleh keberanian warga biasa yang mempertahankan ruang kebebasan. Pesan inti dari peringatan ini adalah menjaga ingatan kolektif agar pelajaran sejarah tetap hidup bagi generasi mendatang.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Rano Karno: 30 Tahun Kudatuli, Ingat dan Jaga Memori Demokrasi
Rano Karno mengaitkan perjalanan politiknya dengan perjuangan korban 27 Juli 1996 dan mengajak bangsa menjag...
DPRD: Jember Perlu Sistem Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir
Wakil Ketua DPRD Jember minta sistem pengelolaan sampah menyeluruh dan peningkatan anggaran setelah sanksi K...
PDI Perjuangan Resmikan Monumen Kudatuli 27 Juli 2026
PDI Perjuangan meresmikan Monumen Kudatuli 27 Juli 2026 sebagai penghormatan korban Tragedi Kudatuli dan pen...
Ketua KONI Trenggalek Ajak Jaga Persaudaraan di Tasyakuran PSHT Munjungan
Ketua KONI Trenggalek Doding Rahmadi mengajak organisasi pencak silat menjaga rasaning ati dan memperkuat pe...
BEC 2026: Parade 'Perang Bayu' Sihir Ribuan Penonton Banyuwangi
Parade kostum BEC ke-14 bertema 'Perang Bayu' memukau ribuan penonton, dihadiri pejabat nasional dan delegas...
Bupati Sumenep Tekankan Peran Strategis Inspektorat dalam Pengawasan
Bupati Sumenep minta inspektorat jadi mitra pelatihan OPD, memperkuat pengawasan internal, dan mencegah peny...