Ekonomi

Balai Yasa Kiaracondong Produksi 9.899 Komponen Keselamatan Jalur

Bagikan:
Pabrik Balai Yasa Kiaracondong memproduksi komponen keselamatan jalur kereta

Balai Yasa Jembatan Kiaracondong memproduksi 9.899 komponen penunjang keselamatan jalur kereta api antara 2023–2025. Laporan kinerja perbengkelan itu disampaikan pada 19 Juli 2026, menegaskan peran fasilitas milik Kereta Api Indonesia (KAI) dalam menjaga keandalan infrastruktur jembatan dan rel.

Produksi komponen dan jenis utama

Seluruh produk baja dibuat secara bertahap selama tiga tahun. Lokasi bengkel berada di Jalan Kiaracondong Nomor 92, Kota Bandung, Jawa Barat. Produksi diarahkan untuk kebutuhan pemeliharaan dan penanganan cepat saat terjadi kerusakan jalur.

"Setiap produk yang dihasilkan berangkat dari kebutuhan menjaga rel dan jembatan tetap aman dilalui perjalanan kereta api," ujar Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.

Berikut rincian komponen yang diproduksi:

Komponen Jumlah
mata pecok (pemadat batu pecah rel) 2.970
Penjepit rel sementara 587
Alat pengukur lebar jalur 464
Mistar pemeriksa cacat rel 399
Alat ukur keausan rel 290
Penyangga jembatan darurat (kapasitas hingga 83 ton) 312
Pengikat rel 603
Cetakan tetrapod 132

Penyelesaian proyek jembatan baja

Pada 2026, Balai Yasa menyelesaikan satu unit jembatan baja besar sepanjang 40 meter dengan berat mencapai 137,91 ton. Selain itu, bengkel menyelesaikan 16 komponen untuk empat jembatan di wilayah Pekalongan hingga Sragi, Jawa Tengah.

Pekerja, sertifikasi, dan kesiapan lapangan

Operasional bengkel didukung 26 pekerja profesional. Semua pegawai mengantongi sertifikat kompetensi resmi dari BNSP, sebagai jaminan mutu dan keterampilan produksi.

Anne Purba menekankan pentingnya produksi mandiri untuk kesiapan lapangan.

"Produksi internal memperkuat kesiapan penanganan. Komponen dapat dibuat sesuai kebutuhan jalur sehingga petugas memiliki peralatan yang tepat saat melakukan pengamanan dan perbaikan," ujar Anne.

Inovasi alat ukur berbasis digital

Manajemen juga merencanakan pengembangan alat ukur digital. Rencana inovasi mencakup dongkrak rel berkapasitas 12 ton dan sistem ukur gelombang keausan permukaan untuk mendeteksi kondisi jalur lebih dini.

"Pengembangan alat ukur dan peralatan kerja diarahkan untuk membantu petugas menemukan kondisi jalur lebih dini sehingga penanganan keselamatan dapat dilakukan secara tepat," kata Wisnu Pramudya, Executive Vice President Corporate Secretary KAI.

Dengan produksi komponen internal dan rencana digitalisasi alat ukur, Balai Yasa Kiaracondong memperkuat kapasitas respons dan pemeliharaan infrastruktur rel. Langkah ini diharapkan mendukung kelancaran operasi kereta dan meningkatkan keselamatan perjalanan dalam jangka menengah.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait