Krisis Stok Darah di Tapaktuan, Pasien Menunggu Transfusi Dua Hari
Tapaktuan — Stok darah di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan kembali menipis, sehingga seorang pasien ber-HB rendah belum menerima transfusi selama dua hari hingga Jumat (26/6). Kondisi ini memicu protes dari Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa, yang menilai keterlambatan pasokan darah mengancam keselamatan pasien.
Kondisi pasien dan kekhawatiran keluarga
Menurut pengaduan, pasien yang membutuhkan darah berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan transfusi segera. Keluarga pasien harus menunggu lebih dari 48 jam tanpa kepastian kapan darah tersedia.
Gusmawi menekankan bahwa setiap menit keterlambatan dapat memperburuk kondisi pasien dan menambah kecemasan keluarga. Ia mengingatkan publik agar tidak menganggap enteng persoalan ini.
"Siapa pun yang memiliki tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan darah di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan jangan hanya diam, jangan tidur, apalagi sampai ‘ngorok’. Di ruang perawatan ada pasien yang sedang berpacu dengan waktu untuk mempertahankan hidupnya,"
Seruan koordinasi antarlembaga
Gusmawi menegaskan pemenuhan kebutuhan darah tidak bisa hanya mengandalkan relawan. Ia meminta rumah sakit, Unit Transfusi Darah (UTD), instansi kesehatan, dan pemangku kepentingan bersinergi saat stok menipis.
Ia menyebutkan pentingnya mekanisme tanggap yang jelas untuk memetakan kebutuhan darah dan mempercepat distribusi ke fasilitas yang kehabisan stok.
Ajakan donor sukarela
Selain mendorong koordinasi, Gusmawi mengajak masyarakat yang sehat untuk mendonorkan darah secara sukarela. Ia mengingatkan bahwa donor darah menyelamatkan nyawa dan bukan sekadar tindakan simbolis.
"Setetes darah yang kita sumbangkan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi pasien yang sedang menunggu transfusi, darah itu bisa menjadi alasan mereka tetap bernapas, tetap tersenyum, dan tetap memiliki kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarganya,"
Untuk mendorong pasokan, Gusmawi mengusulkan kampanye donor terjadwal dan titik pengumpulan darurat saat kebutuhan meningkat. Ia berharap langkah ini bisa mencegah pasien menunggu berhari-hari.
Implikasi dan langkah berikutnya
Masalah stok darah di RSUD tersebut mencerminkan tantangan rantai pasokan darah di wilayah. Jika tidak segera ditangani, risiko gangguan layanan darurat dan prosedur medis akan meningkat.
BFLF Aceh Selatan meminta perhatian serius dari otoritas kesehatan daerah agar tidak ada lagi pasien yang kehilangan kesempatan penyelamatan hanya karena kekurangan darah.
Catatan: Organisasi donor, rumah sakit, dan instansi terkait diharapkan segera menyusun langkah koordinatif untuk memastikan ketersediaan darah tepat waktu.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
ASPERA Mini Studio: Transformasi Digital Pembelajaran Speaking SAS
ASPERA Mini Studio hadir sebagai sistem pembelajaran speaking digital di SAS, memadukan studio, multimedia,...
Subulussalam Beringin Menuju Desa Definitif, BIG Lakukan Verifikasi Batas
Desa Persiapan Subulussalam Beringin menjalani verifikasi batas wilayah oleh BIG setelah peroleh kode regist...
Ketua DPRK Banda Aceh Soroti Lonjakan Perceraian dan Kekerasan Anak
Ketua DPRK Banda Aceh kunjungi Mahkamah Syar'iyah, soroti lebih dari 300 perkara perceraian Jan–Sep 2026 dan...
DP3APM Copot 5 Kepling, 2 Lainnya Tunggu Keputusan Ombudsman
DP3APM Tebingtinggi mencopot 5 kepling pada 1 Oktober; dua lainnya menunggu keputusan Ombudsman setelah meng...
Eksekutor Pembakar Mobil Sukur Rambe Ditahan, Polisi Diminta Ungkap Dalang
Tersangka DH ditahan usai mengaku membakar mobil Sukur Rambe atas perintah RPJ; polisi didesak menuntaskan p...
LSM Tuding Gudang di Medan Labuhan Menimbun Solar Subsidi Ilegal
LSM Social Justice laporkan dugaan penimbunan solar subsidi di gudang Medan Labuhan; minta polisi segera ber...