Kredit UMKM Tumbuh Jauh Lebih Lambat dibanding Perbankan
Sekretaris Kementerian UMKM, Loto Srinaita Ginting, menyatakan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh lebih lambat dibandingkan kredit perbankan nasional pada periode Januari 2023 hingga April 2026. Pernyataan itu disampaikan saat rapat dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026, dan menyorot penurunan porsi kredit UMKM terhadap total kredit bank.
Data pertumbuhan kredit 2023–2026
Berdasarkan data yang disampaikan, total kredit perbankan tumbuh sebesar 38,9 persen dalam periode Januari 2023 hingga April 2026. Nilai nominalnya meningkat dari Rp6.383 triliun menjadi Rp8.865 triliun. Sementara itu, kredit yang disalurkan kepada UMKM hanya tumbuh sekitar 13 persen, dari Rp1.332 triliun menjadi Rp1.505 triliun.
Porsi kredit UMKM menyusut
Konsekuensi dari pertumbuhan yang melambat itu terlihat pada porsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan. Pada Januari 2023, porsi UMKM mencapai sekitar 20,9 persen, namun per April 2026 turun menjadi sekitar 17 persen. Penurunan ini dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan dan lembaga keuangan.
"Meskipun kredit perbankan juga pertumbuhannya melambat, namun dibandingkan kredit UMKM relatif jauh lebih lambat,"
Respons Kementerian UMKM
Untuk merespons tren tersebut, Kementerian UMKM meminta dukungan pemangku kepentingan untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil. Kementerian terus mendorong sejumlah program agar pelaku usaha lebih mudah memperoleh modal.
Langkah konkret yang disebutkan meliputi:
- Penguatan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar syarat dan penyaluran lebih efektif.
- Pemberian pendampingan pembiayaan untuk meningkatkan kelayakan usaha penerima kredit.
- Sinergi dengan berbagai lembaga keuangan untuk memperbesar kapasitas penyaluran.
Dampak dan prospek
Penurunan porsi kredit UMKM dapat memperlemah akses modal bagi segmen usaha yang mempekerjakan banyak tenaga kerja. Jika ketimpangan pembiayaan berlanjut, pertumbuhan usaha mikro dan kecil berisiko melambat, sehingga mempengaruhi pemulihan ekonomi di level lokal.
Ke depan, keberhasilan program seperti penguatan KUR dan pendampingan menjadi kunci untuk meningkatkan penyaluran kredit UMKM. Pengawasan dan kolaborasi antarlembaga perlu diperkuat agar target inklusi keuangan bagi UMKM tercapai.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...