Taruna Ikrar: Neurosains Kunci Kepemimpinan Masa Depan Polri
Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar menekankan pentingnya pemahaman manusia dan pengendalian diri bagi pemimpin masa depan Polri.
Pernyataan itu disampaikan saat Taruna memberi materi tentang neuroleadership atau kepemimpinan berbasis neurosains kepada peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Lembang, Bandung, Kamis, 27 Agustus 2026.
Inti materi: kemampuan mengelola diri dan memahami manusia
Taruna menegaskan bahwa kewenangan dan pangkat tidak lagi cukup untuk memimpin. Pemimpin harus mampu mengendalikan emosi, mengelola tekanan, dan membaca karakter manusia secara mendalam.
“Seorang pemimpin masa depan tidak boleh cuma mengandalkan kewenangan atau pangkat. Anda harus mampu menguasai diri sendiri, mengelola tekanan, dan memahami manusia secara mendalam,”
Menurutnya, pendekatan neurosains memberi kerangka untuk memahami bagaimana otak bereaksi terhadap tekanan, membuat keputusan, dan mengatur emosi.
Mengapa neurosains penting bagi Polri
Taruna menjelaskan bahwa tantangan penegakan hukum kini semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan dinamika geopolitik mengubah cara kerja aparat di lapangan.
Dengan memahami cara kerja otak, calon pemimpin Polri diharapkan bisa:
- Mengambil keputusan tepat di bawah tekanan;
- Membaca risiko dan dampak sosial dari kebijakan;
- Membangun hubungan yang lebih humanis dengan masyarakat.
Ia menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, pengendalian diri, dan integritas sebagai fondasi kepemimpinan modern.
Ancaman obat ilegal dan kebutuhan sinergi
Selain membahas kepemimpinan, Taruna juga menyoroti peredaran obat keras ilegal di Indonesia. Ia meminta adanya koordinasi kuat antara BPOM dan aparat penegak hukum, khususnya Polri.
“Sinergi BPOM dan Polri menjadi kunci utama untuk memutus rantai kejahatan obat ilegal. Kita harus melindungi masyarakat sekaligus menciptakan ekosistem usaha yang sehat,”
Taruna menyatakan bahwa kolaborasi lintas lembaga, pertukaran informasi, dan tujuan bersama penting untuk menangani persoalan publik yang bersifat kompleks.
Implikasi dan harapan ke depan
Taruna mendorong calon pemimpin Polri untuk terus mengembangkan kapasitas keilmuan dan kemampuan adaptasi. Ia berharap kepemimpinan Polri ke depan tidak hanya kuat dalam penegakan hukum, tetapi juga lebih humanis dan berbasis pengetahuan.
Dengan pendekatan neurosains, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kualitas keputusan, membangun kepercayaan publik, serta mengelola tekanan tugas yang semakin berat.
Hadirnya perspektif keilmuan di Sespimti menjadi bagian dari upaya memperkaya kompetensi calon pimpinan Polri menghadapi tantangan strategis era modern.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...