Kelangkaan BBM di Sumut Ganggu Proyek Konstruksi, Pelaku Usaha Khawatir
Medan — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Sumatera Utara mulai mengganggu operasional sektor konstruksi. Pelaku usaha melaporkan alat berat dan kendaraan pengangkut material terhambat, sehingga berisiko menunda penyelesaian proyek dan meningkatkan biaya.
Dampak langsung pada operasional
Pengamat konstruksi Sumatera Utara, Erikson Tobing, menyatakan dampak paling nyata muncul pada pekerjaan yang sangat bergantung pada BBM. Aktivitas alat berat dan transportasi material menjadi yang pertama terganggu.
“Dampaknya pada penggunaan alat berat dan juga alat angkut material, seperti dump truck, molen truck dan semua mesin yang mempergunakan BBM,”
Erikson menyebutkan jenis alat yang terpengaruh meliputi dump truck, molen truck, dan mesin lainnya. Gangguan pasokan membuat waktu kerja alat berat berkurang dan pergerakan material tersendat.
Risiko terhadap jadwal dan biaya proyek
Kelangkaan BBM tidak hanya menunda jadwal kerja, tetapi juga bisa menaikkan biaya operasi. Erikson mengingatkan keterlambatan kerap berujung pada tambahan biaya karena efisiensi menurun dan durasi penggunaan alat bertambah.
“Kalau kondisi ini terus berlangsung, tentu akan ada efek domino terhadap sektor konstruksi. Proyek yang seharusnya berjalan sesuai jadwal bisa mengalami perlambatan,”
Ia menambahkan bahwa distribusi material yang terhambat akan berdampak pada produktivitas pekerja dan pemenuhan target pembangunan daerah.
Data dan cakupan dampak
Erikson mengakui belum ada data pasti mengenai jumlah proyek terdampak atau penundaan yang tercatat. Ia menyarankan penilaian lebih rinci perlu dilakukan pelaksana konstruksi di lapangan untuk mengetahui skala gangguan.
“Saya tidak punya data untuk itu, mungkin bisa ditanyakan langsung kepada pelaksana konstruksi yang ada di Medan. Tetapi secara asumsi, dampaknya sudah pasti terasa kepada seluruh pelaku usaha konstruksi,”
Harapan langkah cepat pemerintah dan Pertamina
Untuk mengurangi tekanan pada sektor produktif, Erikson berharap pemerintah daerah dan Pertamina segera berkoordinasi. Ia menekankan perlunya langkah konkret agar pasokan BBM tersedia untuk kegiatan konstruksi yang menjadi penggerak pembangunan.
“Seharusnya ada koordinasi khusus yang dilakukan oleh pemerintah dan Pertamina untuk mengatasi permasalahan tersebut,”
Kondisi antrean SPBU dan konsekuensi ekonomi lebih luas
Antrean panjang kendaraan di beberapa SPBU di Sumatera Utara beberapa hari terakhir mempertegas masalah pasokan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran gangguan lebih luas pada sektor transportasi, distribusi barang, dan aktivitas ekonomi lainnya.
Jika pasokan tidak pulih cepat, pelaku usaha konstruksi berpotensi menghadapi penjadwalan ulang proyek dan kenaikan biaya yang memberi efek berantai pada pembangunan daerah.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Bobby Nasution Mulai Berkantor di Kepulauan Nias
Gubernur Sumut Bobby Nasution mulai berkantor di Kepulauan Nias pekan ini untuk percepat pembangunan dan tin...
Mahasiswa USK Juara I LETIN 2026 dengan SIGMA Sistem Peringatan Banjir
Tim mahasiswa Teknik Pertambangan USK juara I LETIN 2026 dengan SIGMA, sistem monitoring muka air berbasis s...
Gammawar 2026: Gampong Leu Ue Dinilai atas Implementasi 10 Program PKK
Gampong Leu Ue dinilai dalam Gammawar 2026 untuk mengevaluasi penerapan 10 Program Pokok PKK dan dampaknya b...
Banda Aceh Serahkan LKPJ 2025, Realisasi Pendapatan 95,8%
Wali Kota Banda Aceh serahkan LKPJ 2025 ke DPRK; realisasi pendapatan daerah mencapai 95,8% dari target dan...
Pemko Binjai Sidak SPBU Usai Antrean BBM, Pastikan Stok Cukup
Pemko Binjai sidak ke SPBU pada 13 Juli menanggapi antrean BBM; pemda memastikan stok cukup dan akan pantau...
Langkat Percepat Pemanfaatan TKD 2026, OPD Diminta Selesaikan SIPD
Plt. Bupati Langkat minta percepatan input SIPD untuk menyelesaikan pembahasan TKD 2026 dan segera merealisa...