Kejari Samosir Belum Menahan Tersangka Kasus Korupsi Rp516 Juta
Medan — Kejaksaan Negeri Samosir menetapkan Jonni Ronal Simanjuntak, Pimpinan Bank Mandiri KCP Pangururan, sebagai tersangka dugaan korupsi Program Bantuan Penguatan Ekonomi Masyarakat Korban Bencana.
Meski berstatus tersangka, Kejari Samosir belum melakukan penahanan atau pencegahan terhadap Jonni. Penyidik menyatakan proses pemberkasan masih berlangsung.
Status tersangka dan alasan belum ditahan
Kepala Seksi Intelijen Kejari Samosir, Juna Karo-karo, membenarkan Jonni telah ditetapkan sebagai tersangka.
"Memang benar Jonni sudah dijadikan tersangka. Teman-teman penyidik saat ini sedang melengkapi pemberkasan dan meminta keterangan saksi,"
Juna menegaskan tidak ada perlakuan istimewa terhadap tersangka. Ia menyatakan proses penanganan berlangsung secara transparan sambil melengkapi berkas perkara.
"Tidak ada yang istimewa, karena semua sama kedudukannya di mata hukum. Soal dia tidak ditahan, percaya bang, prosesnya transparan dan kami berupaya segera melengkapi berkasnya,"
Juna juga menambahkan hingga kini penyidik belum menerapkan pencekalan terhadap Jonni.
"Sampai saat ini belum ada pencekalan terhadap tersangka,"
Peran tersangka dan kerugian negara
Dalam surat dakwaan jaksa, disebutkan Jonni bersama mantan Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Samosir, Fitri Agust Karo-karo, terlibat dalam penyaluran bantuan untuk korban banjir bandang.
Bantuan yang dimaksud adalah Program Bantuan Penguatan Ekonomi Masyarakat Korban Bencana senilai Rp1,5 miliar, yang mestinya disalurkan kepada 303 kepala keluarga terdampak di Kecamatan Harian.
Akibat dugaan penyalahgunaan tersebut, negara diperkirakan mengalami kerugian sebesar Rp516 juta.
Proses hukum dan langkah selanjutnya
Penyidik masih melengkapi berkas dan memintai keterangan saksi untuk memperkuat berkas perkara sebelum diserahkan ke penuntut umum. Penetapan tersangka terhadap Jonni menjadi bagian dari pengembangan perkara yang juga menjerat Fitri Agust Karo-karo.
Dengan proses pemberkasan yang masih berjalan, publik menunggu keputusan Kejari Samosir terkait kemungkinan penahanan atau pencegahan perjalanan untuk mencegah upaya penghilangan barang bukti atau pelarian.
Kasus ini akan menjadi perhatian mengingat nilai bantuan dan jumlah keluarga penerima yang terdampak, serta tuntutan transparansi dalam penanganan dana bencana.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
DPRK Aceh Tenggara Sahkan Perubahan APBK 2026 Rp1,145 T
DPRK Aceh Tenggara mengesahkan Raqan Perubahan APBK 2026 senilai Rp1.145.689.513.010 setelah evaluasi Gubern...
DPRD Sumut Mendesak Penambahan Bed Rumah Sakit karena Antrean BPJS
Wakil Ketua DPRD Sumut mendesak penambahan bed rumah sakit karena antrean pasien rujukan BPJS dan distribusi...
Perkebunan Sawit Diduga Ilegal Kuasai Ratusan Hektare di Asahan
Ratusan hektare lahan APL di Desa Sei Dua Hulu, Asahan, diduga dialihfungsikan jadi perkebunan sawit; kepala...
Kak Na Tinjau Pengungsian Banjir di Trumon, Aceh Selatan
Ketua TP PKK Aceh meninjau posko pengungsian di Trumon 4 Nov 2026, menyerahkan bantuan logistik dan menyorot...
Sergai Revisi Perda untuk Perkuat Pengelolaan Aset Daerah
Pemkab Sergai ajukan revisi Perda Pengelolaan Barang Milik Daerah untuk perkuat administrasi, kepastian huku...
Gubernur Aceh Temui Presiden Prabowo Bahas Otsus dan Blang Padang
Gubernur Aceh Muzakir Manaf bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka 4/11 untuk membahas Dana Otsus, Blang...