Ekonomi

KAI Angkut 3,44 Juta Ton Petikemas hingga Juli 2026

Bagikan:
Kereta pengangkut petikemas KAI melintas menuju terminal barang

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengangkut 3.437.795 ton petikemas selama Januari–Juli 2026, tumbuh 20,28% dibanding periode sama tahun lalu. Pada Juli 2026 saja, volume mencapai 521.892 ton, naik 22,80%, memperkuat konektivitas rel-pelabuhan untuk mendukung distribusi logistik nasional.

Data volume dan tren pertumbuhan

Angka angkutan petikemas itu dilaporkan KAI pada awal Agustus 2026. Kenaikan menunjukkan peningkatan permintaan modal logistik berkapasitas besar dan terjadwal dari pelaku usaha.

Dominasi muatan berasal dari produk manufaktur, bahan baku industri, dan barang konsumsi. Peningkatan juga menandakan pergeseran sebagian rantai pasok ke moda rel yang lebih efisien.

Peran konektivitas rel dan pelabuhan

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menilai peran angkutan petikemas krusial untuk menjaga kelancaran aliran barang menuju pelabuhan dan pusat pemasaran. Jalur ini menghubungkan kawasan industri, terminal petikemas, pusat distribusi, dan pelabuhan di berbagai wilayah.

“Pertumbuhan volume petikemas menunjukkan semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan kereta api dalam rantai pasoknya. KAI terus memperkuat konektivitas antara kawasan industri, terminal petikemas, dan pelabuhan agar distribusi produk manufaktur berlangsung semakin efisien, terjadwal, dan memiliki kepastian waktu.”

Menurut Anne, integrasi rel-pelabuhan memungkinkan produk manufaktur dibawa dalam volume besar dari kawasan industri menuju pelabuhan, kemudian diteruskan melalui laut ke berbagai pulau.

“Konektivitas antara kereta api dan pelabuhan membantu membangun arus barang yang lebih teratur. Produk manufaktur dapat dibawa dalam volume besar dari kawasan industri menuju pelabuhan, kemudian diteruskan melalui jalur laut menuju berbagai pulau.”

Upaya operasional KAI

KAI meningkatkan kapasitas terminal barang, memperkuat digitalisasi layanan, dan memperluas kolaborasi dengan pelaku logistik. Perusahaan mendorong arus muatan dua arah agar perjalanan petikemas lebih produktif dan efisien.

Langkah-langkah tersebut bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan jadwal terencana dan kapasitas angkut besar moda rel. Hasilnya diharapkan menurunkan biaya distribusi bagi produsen dan pedagang.

Dampak pada pemerataan harga

Efisiensi distribusi berdampak pada pemerataan harga kebutuhan di berbagai daerah. Wilayah yang jauh dari pusat produksi biasanya menghadapi biaya distribusi lebih tinggi akibat rantai pasok yang lebih panjang.

“Tempat tinggal seseorang seharusnya tidak membuatnya harus menanggung biaya yang jauh lebih besar untuk memperoleh kebutuhan pokok, perlengkapan sekolah, pakaian, maupun kebutuhan rumah tangga. Karena itu, penguatan konektivitas logistik perlu diarahkan untuk mengurangi kesenjangan biaya distribusi antarwilayah.”

Prospek integrasi antarmoda

Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya, menekankan pentingnya penguatan integrasi antarmoda. Keterhubungan kereta api, pelabuhan, kapal, pergudangan, kawasan industri, dan angkutan lanjutan perlu terus diperkuat agar manfaat pertumbuhan angkutan petikemas menjangkau lebih banyak daerah.

“Di balik setiap petikemas terdapat aktivitas produksi, perdagangan, dan kebutuhan masyarakat. Ketika konektivitas rel dan pelabuhan semakin kuat, manfaatnya dapat dirasakan melalui distribusi yang semakin lancar, terbukanya pasar bagi produk daerah, serta berkurangnya kesenjangan biaya antarwilayah.”

Sebagai penutup, KAI menyatakan akan terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memastikan pertumbuhan angkutan petikemas mendukung penguatan industri, memperlancar distribusi, dan memperluas pemerataan akses terhadap barang di seluruh Indonesia.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait