Ekonomi

KAI Angkut 32,5 Juta Ton Barang di Semester I 2026

Bagikan:
Kereta barang KAI mengangkut komoditas di tengah infrastruktur logistik

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengangkut 32.498.043 ton barang sepanjang Semester I 2026, terdiri dari 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton nonbatu bara. Data operasional ini dilaporkan pada Selasa, 28 Juli 2026, sebagai bagian strategi memperkuat konektivitas logistik berbasis moda rel.

Capaian volume dan komoditas

KAI mencatat layanan angkutan barang yang meliputi batu bara serta berbagai komoditas nonbatu bara seperti petikemas, bahan bakar minyak, semen, pupuk, baja, dan kebutuhan masyarakat. Pengangkutan petikemas reguler di Pulau Jawa tercatat sebesar 2,62 juta ton.

Komoditas Tonase (Semester I 2026)
Batu bara 26.534.095
Nonbatu bara (petikemas, BBM, semen, pupuk, baja, kebutuhan masyarakat) 5.963.948
Total 32.498.043

Pengembangan infrastruktur dan kebutuhan investasi

KAI menyiapkan pengembangan Terminal Tarahan II dengan kapasitas tambahan hingga 20 juta ton per tahun untuk memperbesar jaringan logistik berbasis rel. Proyek bersama PT Bukit Asam Tbk ini membutuhkan penambahan sarana.

Item Kebutuhan
Lokomotif 22 unit
Gerbong 1.200 unit
Gerbong datar tiba (pertengahan tahun) 1.080 unit
Perkiraan kebutuhan investasi akselerasi Rp2,5 triliun
Indikasi investasi rute Cilacap–Semarang Rp3,6 miliar
Indikasi investasi distribusi baja Krakatau Steel ke Jatim Rp22 miliar
Kapasitas angkutan minyak kelapa sawit 1,1 juta ton

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menekankan bahwa investasi harus membentuk ekosistem logistik yang utuh.

“Kereta api memiliki kapasitas besar, jadwal yang terencana, serta kemampuan melayani pengiriman antardaerah secara konsisten. Penguatan angkutan barang diarahkan agar layanan berbasis rel semakin terhubung dengan pelabuhan, kawasan industri, dry port, dan layanan first serta last mile,” ujar Anne.

Anne juga mengingatkan agar penambahan lokomotif dan gerbong disertai kesiapan jalur, persinyalan, terminal, fasilitas perawatan, dan kepastian volume dari mitra agar kapasitas dapat termanfaatkan secara produktif.

Konektivitas dan layanan petikemas

Layanan KA Brumbung Cargo mampu membawa muatan hingga 800 ton per rangkaian, mendukung efisiensi pengiriman antarpulau. Rencana konektivitas Terminal Petikemas Cilacap menuju Semarang membutuhkan indikasi investasi awal sebesar Rp3,6 miliar, sementara kerja sama distribusi baja memerlukan investasi lebih besar.

Dampak dan prospek ke depan

Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menegaskan komitmen kolaborasi dengan pemerintah, pengelola pelabuhan, kawasan industri, pemilik barang, dan perusahaan logistik.

“Dengan kolaborasi pemerintah, Danantara, pengelola pelabuhan, kawasan industri, pemilik barang, dan perusahaan logistik, KAI ingin memperbesar kontribusi kereta api dalam rantai pasok nasional. Arah akhirnya adalah sistem distribusi yang semakin terintegrasi, berkapasitas besar, terjadwal, efisien, dan rendah emisi,” kata Wisnu.

Implikasinya adalah potensi peningkatan keandalan distribusi nasional, pengurangan emisi melalui layanan green freight, serta perluasan jangkauan pasar untuk produk Indonesia jika investasi dan konektivitas terealisasi.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait