IHSG Tutup Menguat 1,74% pada 21 Juli 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. IHSG berada di level 6.340,02, naik 108,24 poin (1,74%), sekaligus mencapai posisi tertinggi hari itu.
Pergerakan dan data perdagangan
IHSG dibuka pada level 6.273,57 dan bergerak di zona hijau sepanjang hari. Mayoritas saham mencatatkan kenaikan sehingga indeks tetap berada di area positif sampai penutupan.
Rinciannya, 421 saham menguat, 205 saham melemah, dan 169 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp21,27 triliun dengan volume perdagangan sebesar 50,75 miliar lembar saham dan frekuensi lebih dari 2,9 juta kali transaksi.
Analisis dan sentimen pasar
Tim analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpeluang menguji level resistansi pada kisaran 6.250-6.300. Namun, mereka memperingatkan adanya risiko profit taking yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar.
"IHSG berpotensi menguji level resistansi pada 6.250-6.300. Tetapi perlu diwaspadai adanya potensi profit taking."
Keterangan di atas disampaikan oleh Tim Analis Phintraco Sekuritas pada hari yang sama. Mereka menilai pergerakan indeks masih didukung oleh permintaan beli yang cukup kuat.
Peran investor asing dan saham unggulan
Investor asing mencatatkan aksi beli bersih sebesar Rp156,57 miliar pada perdagangan sebelumnya. Saham yang mendapat pembelian terbanyak antara lain:
- TPIA
- BRPT
- BBRI
- BNBR
- DEWA
Aksi beli asing ini disebut turut menopang sentimen positif di pasar domestik meski kondisi global menunjukkan tekanan.
Dampak peringkat kredit dan risiko ke depan
Pasar mendapat sentimen positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Phintraco menyatakan keputusan itu meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik.
Meski begitu, tim analis tetap mewaspadai beberapa risiko eksternal. Di antaranya peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap valuasi saham berbasis kecerdasan buatan. Kenaikan harga minyak juga dapat mendorong penguatan dolar AS dan berpotensi mempengaruhi kebijakan suku bunga The Fed.
Dengan kombinasi sentimen global dan lokal tersebut, pelaku pasar disarankan tetap selektif dan waspada terhadap potensi profit taking dalam jangka pendek.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...