IHSG Anjlok 4,11% ke 5.941, Transaksi Rp25,16 T pada 3 Juni
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun tajam pada Rabu, 3 Juni 2026, anjlok 4,11% atau 254,36 poin ke level 5.941. Penurunan terjadi setelah indeks sempat membuka di zona hijau dan menyentuh titik tertinggi hari itu.
Pergerakan pasar dan data perdagangan
Pada pembukaan, IHSG bergerak di level 6.207,10 dan sempat mencapai puncak harian 6.213,8 sebelum berbalik melemah. Sepanjang sesi, tekanan jual mendominasi sehingga sebagian besar saham melemah.
Rincian pergerakan saham menunjukkan 692 saham melemah, 69 saham menguat, dan 54 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp25,16 triliun dengan volume perdagangan sekitar 39,81 miliar lembar saham dan frekuensi lebih dari 2,7 juta kali transaksi.
Faktor pemicu pelemahan
Tim Riset Phintraco Sekuritas menyebut kombinasi sentimen global dan domestik sebagai pemicu turunnya IHSG. Menjelang penutupan sesi pertama, indeks sudah melemah lebih dari empat persen sehingga menembus level psikologis.
Hingga menjelang penutupan sesi I perdagangan 3 Juni 2026, IHSG melemah lebih dari 4 persen, menembus level psikologis 6.000 hingga mendekati level 5.900.
Phintraco mencatat penilaian rating dari Moody's terhadap Danantara Investment Management berpengaruh negatif terhadap sentimen investor. Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif, yang dinilai memperburuk persepsi risiko pasar.
Rupiah, harga minyak, dan inflasi
Pelemahan nilai tukar rupiah turut memperparah tekanan pasar saham. Rupiah sempat melemah hingga level Rp17.926 per dolar AS, seiring penguatan kembali harga minyak dunia.
Rupiah kembali tertekan, melemah menembus level Rp17.926 per dolar AS. Yang antara lain disebabkan oleh berbalik menguatnya kembali harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi geopolitik itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pelebaran defisit APBN dan akselerasi inflasi domestik.
Phintraco juga mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08% (yoy), angka yang menambah kecemasan investor terkait stabilitas ekonomi dalam negeri.
Belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS-Iran telah mendorong penguatan harga minyak. Sehingga menimbulkan kecemasan akan meningkatnya laju inflasi.
Prospek pasar
Dengan tekanan eksternal dari harga minyak dan sentimen rating, pasar diperkirakan tetap rentan dalam jangka pendek. Investor akan memantau perkembangan geopolitik, pergerakan nilai tukar, dan data ekonomi berikutnya untuk menentukan arah perdagangan selanjutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PT Vale Luncurkan Kelas Konservasi untuk Duta Lingkungan
PT Vale meluncurkan Kelas Konservasi di Luwu Timur untuk melatih 50 pelajar menjadi duta lingkungan selama J...
Sandiaga Investasi di Mutuagung Lestari, Bidik Bisnis Sertifikasi
Sandiaga Uno investasikan pada PT Mutuagung Lestari untuk memperkuat layanan sertifikasi yang mendukung daya...
Regulasi dan Insentif Fiskal Kunci Pengembangan Industri Menengah
Regulasi jelas dan jaminan insentif fiskal dinilai penting untuk mempercepat pengembangan industri menengah...
Bisnis Kopi Solo Melaju Seiring Perubahan Gaya Hidup
Bisnis kopi di Solo berkembang karena gaya hidup, wisata, dan inovasi UMKM; peluang besar bagi kedai lokal y...
Harga Emas Antam Turun Tajam ke Rp2.605.000/gram
Harga emas Antam 24 Juli 2026 turun ke Rp2.605.000/gram, minus Rp35.000; buyback Rp2.345.000/gram. Ketentuan...
INALUM Buka Program Magang, Ajak Talenta Muda Belajar di Industri
INALUM membuka program magang untuk talenta muda belajar langsung di industri nasional, memperkuat keterampi...