Ekonomi

IHSG Menguat Tipis ke 6.392, Turunnya Harga Minyak Jadi Katalis

Bagikan:

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, ke level 6.392,33, naik sekitar 7,61 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya. Penguatan terjadi setelah penurunan harga minyak mentah dan penguatan bursa global yang menjadi katalis positif, meski tekanan jual asing masih berlanjut.

Pergerakan pasar dan aksi investor

Pada hari perdagangan sebelumnya, Senin, IHSG ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73 disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp503,12 miliar. Beberapa saham menjadi sasaran jual asing, antara lain:

  • AMMN
  • TPIA
  • BRPT
  • COIN
  • CUAN

Secara teknikal, analis memperkirakan indeks bergerak dalam rentang 6.300–6.500, dengan potensi pengujian level 6.300–6.350 jika tekanan berlanjut.

Analisis teknikal

Tim riset Phintraco Sekuritas menilai IHSG masih berada di atas level MA100, namun indikator Stochastic RSI menunjukkan pelebaran yang berpotensi membentuk Death Cross di area oversold. Kondisi ini membuka kemungkinan pengujian support lebih rendah pada sesi mendatang.

"IHSG masih di atas level MA100, namun pelebaran Stochastic RSI berpotensi membentuk Death Cross di area oversold. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6,300-6,350 pada perdagangan Selasa," kata tim Phintraco Sekuritas.

Sentimen global: harga minyak turun

Penurunan harga minyak menjadi salah satu pendorong positif pasar. Kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah mereda, sehingga volume pengiriman dari Teluk Persia meningkat selama akhir pekan. Harga minyak WTI turun ke sekitar 95,29 dollar AS per barel, sementara Brent berada di kisaran 100,34 dollar AS per barel.

Perubahan aturan BEI untuk DINFRA

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan ketentuan batas harga terendah minimum untuk Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) dari Rp50 menjadi Rp1, efektif 28 September 2026. Penyesuaian ini juga disertai perubahan aturan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB).

"Pemberlakuan tersebut berdampak positif dalam meningkatkan likuiditas pasar, mengoptimalkan mekanisme pembentukan harga yang wajar (price discovery). Membuka jalan keluar bagi investor yang modalnya terjebak menahun di saham yang ARB pada level Rp50 dalam waktu lama," kata tim Phintraco.

Namun, kebijakan ini juga membawa risiko, termasuk potensi kerugian modal yang besar serta tingginya volatilitas spekulatif pada saham berharga di bawah Rp50 per lembar.

Sentimen domestik: percepatan bioetanol

Pemerintah mempercepat pengembangan bioetanol untuk mencapai bauran bensin E20 dalam dua tahun dan menuju E50 di masa depan. Menteri Pertanian memperkirakan program ini dapat menciptakan hingga 8 juta lapangan kerja permanen.

Percepatan bioetanol dipandang sebagai sentimen positif bagi emiten yang memiliki eksposur pada komoditas tebu, jagung, singkong, energi terbarukan, dan infrastruktur pendukung biofuel.

Secara keseluruhan, kombinasi sentimen eksternal dan kebijakan domestik akan menentukan arah IHSG dalam beberapa sesi ke depan, dengan fokus pada perkembangan harga minyak, arus modal asing, dan implementasi aturan BEI terkait DINFRA.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait