IHSG Melemah 0,21% ke 6.134,99 pada Sesi I
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir sesi I perdagangan Selasa, 29 September 2026, turun 0,21 persen ke level 6.134,99. Pelemahan terjadi sejak pembukaan dan mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi global serta aksi jual asing.
Pergerakan sesi I mencatat posisi tertinggi di 6.151 dan terendah di 6.013 menurut data RTI hingga pukul 12.00 WIB. Volume perdagangan sebesar 24,2 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp8,1 triliun dan frekuensi sekitar 1,1 juta kali transaksi.
Teknikal dan level kunci
Secara teknikal, indikator MACD dan Stochastic RSI menunjukkan potensi pelemahan lanjutan setelah IHSG ditutup di bawah support 6.200. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan pengujian level support berikutnya.
"Diperkirakan IHSG akan menguji level support berikutnya di 6.000-6.100," kata tim Phintraco dalam risetnya.
Pengaruh arus modal asing
Sentimen negatif diperparah oleh aksi jual obligasi pemerintah AS dan sinyal kenaikan suku bunga The Fed. Aliran modal asing tercatat sebagai net sell sekitar Rp1,3 triliun sehingga menekan likuiditas pasar domestik.
Kebijakan BEI dan faktor domestik
Perlambatan juga bertepatan dengan berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar pada pasar reguler dan pasar tunai. Perubahan ini ditujukan untuk memperluas akses perdagangan, namun berpotensi menambah volatilitas jangka pendek.
Harga energi dan risiko inflasi
Kenaikan harga minyak global di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko inflasi. Tekanan harga energi mendorong kekhawatiran bahwa inflasi dapat melampaui target bank sentral.
"Apabila inflasi meningkat di atas target Bank Indonesia, dikhawatirkan suku bunga acuan harus dinaikkan," terang tim Phintraco.
Prospek ke depan
Investor akan memantau rilis data inflasi AS, termasuk indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), yang dapat memengaruhi kebijakan The Fed. Di dalam negeri, pasar juga akan mengamati respons Bank Indonesia terhadap tekanan inflasi dan implikasinya terhadap suku bunga acuan.
Pada jangka pendek, kombinasi sentimen global dan kebijakan domestik diperkirakan menjaga volatilitas pasar, sehingga level 6.000-6.100 menjadi penguji utama sentimen investor.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...