Ekonomi

Hilirisasi Mineral Perkuat Nilai Tambah dan Dorong Industri

Bagikan:

Pemerintah mendorong hilirisasi mineral untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperkuat struktur industri nasional. Kebijakan pembatasan ekspor bahan mentah dan pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri diharapkan menciptakan rantai nilai yang lebih panjang. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pertambangan menyumbang Rp229,9 triliun atau 8,87 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada triwulan II 2026. Pernyataan kunci dari akademisi dan angka korporasi menunjukkan arah transformasi sektor ini.

Dukungan kebijakan dan implikasi ekonomi

Transformasi pertambangan didorong lewat kebijakan hilirisasi dan pembatasan ekspor mineral mentah. Langkah ini memaksa perusahaan membangun fasilitas pengolahan di dalam negeri, sehingga membuka peluang pekerjaan dan investasi hilir. Selain itu, peningkatan pengolahan domestik memperkuat pasokan bahan baku bagi industri manufaktur dan menurunkan kerentanan terhadap fluktuasi permintaan global.

Suara ahli: tujuan hilirisasi

"Sebesar-besarnya manfaat dari kegiatan ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam, termasuk pertambangan, harus memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Khususnya, terhadap pemasukan negara, baik melalui pajak, bagi hasil, maupun mekanisme lainnya."

Pernyataan itu disampaikan Ali Ahmudi, Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia, pada 29 September 2026. Ia menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi harus dinilai dari penerimaan negara sekaligus penciptaan industri baru dan manfaat bagi masyarakat.

Peran korporasi: MIND ID dan data 2025

Dalam ekosistem pertambangan nasional, Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) mengelola mineral secara terintegrasi bersama anak usaha. Sepanjang 2025, MIND ID melaporkan Generated Economic Value sebesar Rp185,16 triliun dan Distributed Economic Value mencapai Rp180,30 triliun. Nilai itu disalurkan kepada negara, pekerja, mitra usaha, investor, dan masyarakat.

Contoh konkret: bauksit menjadi aluminium

Salah satu bukti efektivitas hilirisasi terlihat pada bauksit yang diolah menjadi alumina lalu aluminium. Nilai komoditas dapat melonjak dari sekitar USD40 per metrik ton untuk bauksit menjadi sekitar USD3.400 per ton untuk aluminium. Produk aluminium ini menjadi bahan baku strategis bagi konstruksi, transportasi, kelistrikan, dan energi baru terbarukan seperti panel surya.

Tantangan dan prospek ke depan

Penguatan industri pengolahan mineral perlu didukung konsistensi kebijakan dan pembangunan ekosistem industri di hilir. Selain menciptakan nilai tambah, hilirisasi mampu memperluas lapangan kerja dan mendorong industrialisasi nasional. Implementasi yang konsisten juga penting agar kekayaan mineral memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi negara dan masyarakat.

Dengan fokus pada pengolahan dalam negeri, sektor pertambangan berpotensi menjadi pilar industrialisasi yang berkelanjutan dan meningkatkan kontribusi terhadap pembangunan nasional.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait