Politik

Hilirisasi Kopi Blitar: Dorong Petani dan Pemuda Olah Kopi

Bagikan:
Pelatihan barista dan bantuan alat roasting kopi di Blitar untuk memperkuat hilirisasi

Anggota Komisi B DPRD Jatim mendorong hilirisasi kopi di Blitar melalui pelatihan barista dan bantuan alat roasting agar petani serta generasi muda mampu menciptakan nilai tambah.

BLITAR — Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Erma Susanti, membuka pelatihan barista di Joglo Omah Kopi, Desa Kemirigede, Kecamatan Kesamben, Minggu (19/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat hilirisasi kopi di Kabupaten Blitar agar produk lokal memiliki nilai jual lebih tinggi.

Pelatihan dan peserta

Program hasil kerja sama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur dengan Pemerintah Kabupaten Blitar diikuti 100 peserta. Mereka berasal dari kelompok tani hutan dan kelompok tani di Kecamatan Wlingi, Doko, Kesamben, hingga Selorejo.

Kegiatan diawali dengan penyerahan bantuan alat roasting kopi sebagai dukungan pengolahan di tingkat desa. Pelatihan mencakup praktik langsung meracik dan menyajikan kopi untuk pasar.

Materi pelatihan dan keterampilan

Selain teknik barista, pelatihan membekali peserta dengan keterampilan penting untuk bisnis kopi. Materi yang diajarkan meliputi:

  • Teknik roasting dan pengolahan biji kopi
  • Perhitungan biaya produksi dan penentuan harga jual
  • Strategi pemasaran produk olahan kopi
  • Pembuatan produk siap saji berbasis kopi

Alasan hilirisasi

Erma menilai Blitar memiliki potensi kopi berkualitas yang telah meraih prestasi nasional. Namun, sebagian besar panen masih dipasarkan sebagai bahan baku. Hal ini membatasi manfaat ekonomi bagi petani.

"Petani jangan hanya berhenti menjual biji kopi atau hasil roasting. Anak-anak muda harus mampu mengolahnya menjadi produk siap saji dan membangun usaha sendiri. Di situlah nilai tambah ekonomi akan tercipta,"

Dukungan pemerintah daerah

Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Khusna Lindarti, menegaskan bahwa hilirisasi adalah kunci meningkatkan daya saing kopi Blitar. Menurutnya, produksi melimpah harus diimbangi kemampuan pengolahan agar nilai jual lebih tinggi.

"Kopi harus menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kalau hanya dijual sebagai bahan mentah, nilai tambahnya sangat terbatas. Tetapi ketika diolah dan dipasarkan dalam berbagai produk, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar,"

Langkah jangka panjang

Erma juga mendorong pembukaan kelas perkopian di SMK di kawasan sentra kopi. Tujuannya menyiapkan sumber daya manusia yang menguasai budidaya, pengolahan, dan pemasaran sehingga rantai nilai industri kopi berkembang di daerah.

Dengan pelatihan dan dukungan alat, diharapkan semakin banyak generasi muda berani membangun usaha berbasis kopi lokal. Ini akan menggeser posisi petani dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pelaku industri bernilai tambah.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait