Hikmah Kurban: Prof Armiadi Ajak Menyembelih Egoisme
Aceh Besar — Prof. Dr. Armiadi Musa, MA menyampaikan khutbah Idul Adha 1447 H di Masjid Abu Indrapuri, Indrapuri, Aceh Besar, Rabu (27/5). Ia mengajak umat untuk menjadikan momentum kurban sebagai kesempatan menyembelih egoisme, merawat ukhuwah, dan menegakkan ketaatan kepada Allah.
Pesan utama khutbah: kurban bukan sekadar ritual
Dalam khutbahnya, Prof. Armiadi menegaskan bahwa kurban lebih dari sekadar menyembelih hewan dan membagikan daging. Kurban adalah madrasah ruhani yang mengajarkan tiga hikmah besar: cinta total kepada Allah, sikap taslim atau ketaatan tanpa syarat, serta pengendalian diri dan rendah hati.
Jangan sampai kurban kita secara lahiriah diterima, namun di hadapan Allah kita berdosa karena memelihara sifat angkuh dan gemar memecah belah umat.
Hikmah pertama: ujian cinta dan loyalitas
Prof. Armiadi mengingatkan kisah Nabi Ibrahim AS yang menunggu anak selama puluhan tahun hingga tiba ujian berat ketika diminta menyembelih putranya, Ismail. Dari peristiwa itu muncul pelajaran bahwa cinta kepada Allah harus melebihi kecintaan kepada dunia maupun keluarga.
Hikmah kedua: taslim atau ketaatan mutlak
Kurban mengajarkan sikap taat tanpa debat atau alasan. Nabi Ibrahim, Ismail, dan Hajar menjadi teladan sikap patuh yang tidak mencari-cari pembenaran. Prof. Armiadi mengingatkan bahwa di era modern sering muncul kecenderungan memilih ketaatan sesuai keuntungan pribadi.
Di zaman modern ini, terkadang kita sering kali mematuhi aturan Allah hanya jika aturan itu sejalan dengan logika atau keuntungan pribadi kita. Melalui ibadah kurban, kita diajarkan untuk taat tanpa tetapi dan patuh tanpa nanti. Ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu hukum, termasuk dalam menegakkan syariat Islam di bumi Aceh ini, maka kewajiban kita adalah mengatakan: 'sami'na wa atha'na', kami dengar dan kami taat.
Hikmah ketiga: menyembelih egoisme dan kesombongan
Prof. Armiadi memaknai penggantian Ismail dengan seekor domba sebagai simbol bahwa yang dikehendaki Allah bukan darah hewan, melainkan ketakwaan. Oleh karena itu, kurban menuntut umat untuk membuang sifat kebuasan, merasa paling benar, dan sikap merendahkan orang lain.
Hewan ternak memiliki sifat egois, mau menang sendiri, dan tidak berakal. Maka, ibadah kurban menuntut kita untuk menyembelih penyakit hati berupa sifat merasa diri paling benar, sombong dan menganggap orang lain selalu salah.
Penutup: implikasi sosial dan spiritual
Khutbah Prof. Armiadi menekankan bahwa menjaga persaudaraan dan saling menghormati di gampong adalah kewajiban agama. Selain ibadah individual, kurban harus berdampak pada pembauran sosial dan penguatan ukhuwah. Implementasi nilai-nilai ini penting agar tradisi kurban memberi manfaat lahir dan batin bagi umat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Polda Sumut Ungkap Motif Pembunuhan Wakil Rektor IT&B di Berastagi
Polda Sumut menangkap dua pelaku pembunuhan Wakil Rektor II IT&B di Berastagi. Motifnya untuk menguasai hart...
Tiorita Tinjau Perbaikan Jalan Longsor di Salapian, Langkat
Plt Bupati Langkat Tiorita Br Surbakti meninjau perbaikan jalan longsor di Salapian (29/9); Pemkab turunkan...
Wali Kota Lhokseumawe Siapkan Pendampingan Hukum untuk Keluarga Rasya
Wali Kota Lhokseumawe janjikan pendampingan hukum untuk keluarga Muhammad Rasya Fadilla dan akan menyiapkan...
DPR Minta Warga Tenang dan Percayakan Penyelidikan Kasus Mahasiswa Pelayaran
Anggota DPR Komisi V, Ghufran, menyampaikan duka atas meninggalnya mahasiswa Politeknik Malahayati dan memin...
Pemkab Aceh Besar dan BNN Sinergi Pulihkan Kawasan Rawan Narkoba
Pemkab Aceh Besar dan BNN memperkuat sinergi untuk memulihkan kawasan rawan narkoba lewat pencegahan, pember...
Labuhanbatu Gelar Bupati Cup PBSI 2026, 250 Peserta Ikut
Turnamen Bupati Cup PBSI Labuhanbatu 2026 resmi dibuka di Rantauprapat, diikuti sekitar 250 peserta dari 10...