Ustaz: Harta dan Anak Perhiasan Dunia sekaligus Ujian Iman
Aceh Besar — Ustaz Dr. H. Muakhir Zakaria menyampaikan dalam khutbah Jumat bahwa harta dan anak disebut Al-Quran sebagai perhiasan dunia yang sekaligus bisa menjadi ujian bagi keimanan. Khutbah disampaikan di Masjid Darul Hasani Miruek Taman, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Jumat (18/9), bertepatan 6 Rabiul Akhir 1448 H.
Rujukan Al-Quran dan tafsir ulama
Ustaz Muakhir merujuk dua ayat yang menegaskan kedudukan harta dan keturunan. Kedua ayat itu menggambarkan nikmat yang dapat menuntun pada ketaatan atau kemaksiatan.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)
Menurut penjelasan para mufassir, harta memberi manfaat dan keindahan, sedangkan anak memberi kekuatan serta penerus keturunan. Namun keduanya juga menjadi ujian terhadap amanah dan ketaatan.
Mengapa disebut perhiasan dan ujian
Ustaz Muakhir menyebut dua sebab utama. Pertama, harta dan keturunan sangat kuat mengikat hati manusia. Kedua, keduanya menjadi akar persoalan saat pandangan terhadapnya keliru.
Ia menjelaskan contoh nyata: seseorang bekerja keras demi harta lalu takut kehilangan. Ada pula yang tergoda melanggar aturan halal-haram demi masa depan anak.
Dampak praktis pada perilaku dan moral
Ketika harta dijadikan tujuan utama, batas halal dan haram bisa hilang. Dari situ muncul perilaku seperti penipuan, suap, penggelapan, hingga korupsi. Ustaz Muakhir menegaskan pentingnya dimensi moral dalam menjaga amanah.
“Korupsi pada hakikatnya bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga krisis amanah dan penyakit moral. Seseorang yang mengambil harta yang bukan haknya telah mengorbankan kejujuran demi perhiasan dunia yang sementara,”
Sementara itu, anak disebut bukan sekadar kebanggaan. Anak adalah amanah yang harus dibimbing iman, ilmu, dan akhlaknya, bukan hanya sukses materi atau status sosial.
Pesan dan rekomendasi
Ustaz Muakhir menekankan tiga poin perbaikan orientasi hidup. Pertama, jangan jadikan harta sebagai tujuan akhir. Kedua, didik anak sebagai amanah moral. Ketiga, utamakan amal saleh yang kekal sebagai ukuran keberhasilan.
- Jaga batas halal dan haram dalam mencari penghidupan.
- Bangun pendidikan akhlak dan iman pada anak sejak dini.
- Ukur keberhasilan dengan amal saleh, bukan sekadar harta materi.
Pesan khutbah ini mengingatkan kembali bahwa kesejahteraan duniawi tidak boleh mengalahkan tanggung jawab spiritual dan sosial. Pandangan yang lurus terhadap harta dan anak penting untuk menjaga integritas individu dan masyarakat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPRK Aceh Tenggara Sahkan Perubahan APBK 2026 Rp1,145 T
DPRK Aceh Tenggara mengesahkan Raqan Perubahan APBK 2026 senilai Rp1.145.689.513.010 setelah evaluasi Gubern...
DPRD Sumut Mendesak Penambahan Bed Rumah Sakit karena Antrean BPJS
Wakil Ketua DPRD Sumut mendesak penambahan bed rumah sakit karena antrean pasien rujukan BPJS dan distribusi...
Perkebunan Sawit Diduga Ilegal Kuasai Ratusan Hektare di Asahan
Ratusan hektare lahan APL di Desa Sei Dua Hulu, Asahan, diduga dialihfungsikan jadi perkebunan sawit; kepala...
Kak Na Tinjau Pengungsian Banjir di Trumon, Aceh Selatan
Ketua TP PKK Aceh meninjau posko pengungsian di Trumon 4 Nov 2026, menyerahkan bantuan logistik dan menyorot...
Sergai Revisi Perda untuk Perkuat Pengelolaan Aset Daerah
Pemkab Sergai ajukan revisi Perda Pengelolaan Barang Milik Daerah untuk perkuat administrasi, kepastian huku...
Gubernur Aceh Temui Presiden Prabowo Bahas Otsus dan Blang Padang
Gubernur Aceh Muzakir Manaf bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka 4/11 untuk membahas Dana Otsus, Blang...