Absen Asian Games, Estu Santoso Soroti Kuota 11 Pemain Asing
Absennya Timnas U-23 Indonesia dari sepak bola putra Asian Games 2026 memicu sorotan terhadap kebijakan kuota pemain asing di kompetisi domestik. Pengamat sepak bola Estu Santoso menilai kebijakan tersebut mengurangi kesempatan pemain muda mendapat menit bermain kompetitif, yang berujung pada kegagalan lolos ke putaran final Piala Asia U-23 dan tiket Asian Games.
Alasan absen dan konsekuensi
Indonesia gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2026 setelah menempati posisi runner-up Grup J dengan empat poin, berada di bawah Korea Selatan, dan tidak masuk daftar runner-up terbaik. Kondisi ini membuat Garuda Muda kehilangan peluang tampil di Asian Games 2026 di Jepang. Sementara itu, negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina berhasil melaju.
Kuota pemain asing dan jam terbang pemain muda
Estu mengaitkan penurunan performa kelompok usia dengan kebijakan jumlah pemain asing dalam dua musim terakhir. Menurutnya, kebijakan yang memungkinkan penggunaan 11 pemain asing dalam satu klub Super League telah memangkas peluang pemain lokal usia muda untuk mendapat waktu bermain.
"Dua musim terakhir kita bisa memakai 11 pemain asing dalam satu klub Super League. Kegagalan kita di kualifikasi Piala Asia U-23 dan SEA Games 2025 sejak dimulainya kebijakan 11 pemain asing itu,"
Ia menambahkan bahwa banyaknya pemain asing membuat menit bermain bagi pemain muda menjadi sangat terbatas, sehingga sulit bagi mereka untuk berkembang melalui pengalaman kompetitif.
"Banyaknya pemain asing membuat potensi pemain muda dimainkan sangat kecil sekali,"
Perbandingan kebijakan regional
Estu membandingkan situasi Indonesia dengan Vietnam, yang membatasi pendaftaran pemain asing menjadi tujuh per tim. Kebijakan ini, menurutnya, berdampak positif terhadap pembinaan usia muda Vietnam. Sebagai bukti, Vietnam mencapai semifinal Piala Asia U-23 2026 sebelum dikalahkan Tiongkok 0-3, dan sebelumnya menembus empat besar Asian Games 2018.
Rekomendasi kebijakan
Estu meminta federasi sepak bola untuk mengkaji ulang aturan kuota pemain asing, terutama di level Super League. Ia mengingatkan perlunya kebijakan yang memungkinkan pemain muda bersaing secara reguler dengan pemain senior.
"Kalau setiap tim punya banyak pemain asing, pemain-pemain muda ini hanya dimainkan sekali atau dua kali, susah bersaing. Karena tentu pelatih juga membutuhkan kemenangan,"
Estu juga menyoroti perbedaan aturan antar kasta. Saat ini hanya Liga Championship yang memiliki kuota pemain muda, sementara di Super League kebijakan itu tidak diterapkan. Ia menegaskan bahwa kesempatan tampil di level kompetitif harus tersedia agar regenerasi timnas berjalan efektif.
Evaluasi kebijakan kuota pemain asing dianggap sebagai langkah penting untuk meningkatkan kualitas pembinaan usia muda dan memperbaiki peluang Timnas U-23 di turnamen internasional mendatang.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
Leonard Sky Cetak Tembakan Penentu, Ayah Rela Tempuh Semarang-Bandung
Leonard Sky minta ayah hadir; Okky travel Semarang-Bandung dan menyaksikan Sky cetak tembakan tiga penentu d...
Arzenic SMAN 1 Cirebon: Dukungan Sekolah dan Alumni di DBL 2026
Arzenic SMAN 1 Cirebon mendapat dukungan sekolah dan alumni untuk berlaga di Honda DBL 2026, termasuk bantua...
AQUA DBL Dance 2026: Pelajar Tampilkan Cerita Indonesia di Panggung
Pelajar dari SMAN 2 Bandung, SMA BPK Penabur Singgasana, dan SMA Taruna Bakti tampil di AQUA DBL Dance 2026...
Latisha Pattinama Merantau ke Cirebon dan Debut di DBL 2026
Latisha Milinka Pattinama merantau ke Cirebon untuk bergabung dengan SMA BPK Penabur dan debut di Honda DBL...
Kenneth Debut Gemilang di Honda DBL 2026 di Bandung Arena
Setelah tak terpilih tahun lalu, siswa kelas 11 Kenneth berhasil debut di Honda DBL 2026 bersama SMAK dan me...
AQUA DBL Dance 2026: Empat SMA Angkat Cerita Nusantara
Empat tim SMA di AQUA DBL Dance 2026 Jawa Barat menampilkan cerita Nusantara, dari kain tradisi hingga mitol...