Nasional

Hari Kunjung Perpustakaan: Sejarah, Tujuan, dan Cara Merayakan

Bagikan:
Pengunjung membaca dan meminjam buku di perpustakaan saat Hari Kunjung Perpustakaan

Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September sejak 1995 untuk mendorong pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan memperkuat budaya membaca di masyarakat. Pencanangan ditetapkan melalui surat bernomor 020/A1/VIII/1995 yang diterbitkan pada 11 Agustus 1995 atas inisiatif pemerintahan Presiden Soeharto.

Sejarah singkat dan latar belakang

Usulan penetapan hari kunjung ditujukan agar perpustakaan lebih dimanfaatkan oleh semua kalangan. Kepala Perpustakaan Nasional pertama, Mastini Harjo Prakoso, mencatat perjalanan panjang dunia penerbitan Indonesia dalam arsip Himpunan Perpustakaan Khusus Indonesia.

Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia termasuk produktif menerbitkan buku. Dukungan Presiden Sukarno terhadap penerbitan dan pemberantasan buta huruf turut mendongkrak industri buku dan aktivitas literasi.

Pada 1963 sektor penerbitan mulai berkembang pesat dan menarik perhatian internasional. Misalnya, perpustakaan-perpustakaan luar negeri dan lembaga seperti KITLV Belanda serta perwakilan dari Amerika Serikat dan Australia mengakuisisi terbitan Indonesia sebagai sumber ilmu sosial dan sejarah.

Tujuan peringatan

Hari Kunjung Perpustakaan diarahkan untuk mendorong masyarakat memanfaatkan perpustakaan secara optimal sebagai sumber pengetahuan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan minat baca, memperluas akses informasi, dan memperkuat gerakan literasi di berbagai wilayah.

Cara memperingati dan kegiatan yang umum

Peringatan dapat dilakukan melalui beragam kegiatan yang bersifat lokal maupun nasional. Kegiatan ini membantu menjangkau berbagai kelompok usia serta menyesuaikan dengan kebutuhan komunitas setempat.

  • Mengunjungi perpustakaan dan mengikuti program membaca bersama.
  • Mendukung program literasi daerah, termasuk donasi buku dan pelatihan membaca.
  • Menjadi relawan di komunitas baca atau terlibat dalam bedah buku.
  • Meningkatkan pelayanan perpustakaan agar kunjungan lebih nyaman dan produktif.

Contoh peringatan di daerah

Pelaksanaan Hari Kunjung Perpustakaan berbeda-beda di tiap daerah. Di Yogyakarta, peringatan pernah diwujudkan dengan peningkatan pelayanan bagi pemustaka agar kunjungan lebih nyaman. Sementara di Sulawesi Tengah, kegiatan dikombinasikan dengan pelantikan pengurus Satu Birokrasi Satu Buku atau Sabi Sabu serta sesi bedah buku.

Secara keseluruhan, momentum 14 September membuka peluang untuk memperkuat gerakan literasi, mendorong penerbitan lokal, dan memperluas akses pengetahuan. Untuk informasi resmi terkait program dan inisiatif perpustakaan, masyarakat dapat merujuk ke laman Perpustakaan Nasional.

Dengan peningkatan kunjungan dan partisipasi aktif publik, perpustakaan dapat kembali berperan sentral sebagai sumber belajar sepanjang hayat.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait