Apoteker: Pelemahan Rupiah Dorong Kenaikan Harga Obat hingga 3%
Surabaya, 7 Juni 2026 — Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) cabang Surabaya menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mendorong kenaikan harga obat di apotek hingga 3 persen, terutama untuk obat bebas dan obat bebas terbatas. Kenaikan ini mulai terasa sejak pekan terakhir dan berdampak pada penjualan serta operasional apotek.
Dampak langsung pada harga obat
Ketua IAI Surabaya, Rizal Umar, mengatakan kenaikan harga terutama terjadi pada obat yang bahan bakunya sebagian besar diimpor. Menurutnya, produsen obat belum menaikkan harga obat resep secara signifikan karena masih mengandalkan stok bahan baku yang dibeli sebelum pelemahan rupiah.
Sementara untuk obat keras (resep) belum ada kenaikan signifikan. Kemungkinan produsen obat masih memiliki stok bahan baku yang dibeli sebelum pelemahan rupiah seperti saat ini,
Rizal menekankan bahwa jika pelemahan rupiah berlanjut atau melebihi asumsi produsen, harga obat berbagai jenis kemungkinan besar akan ikut naik. Ia menyoroti komponen impor dalam bahan baku obat yang cukup besar.
Bahan baku oabat 80 persen lebih masih dari impor,
Pengaruh pada penjualan dan perilaku pasien
Imbas kenaikan harga terlihat pada pola pembelian masyarakat. Apotek melaporkan penurunan pembelian obat, terutama untuk penyakit kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes. Pasien kini cenderung membeli seperlunya, bukan stok bulanan seperti kondisi normal.
Dalam kondisi normal biasanya masyarakat membeli obat-obatan tersebut sekalian untuk stok atau penggunaan beberapa lama (satu bulan). Sekarang mereka cendrung membeli seperlunya saja,
Penurunan pembelian ini otomatis mengurangi pendapatan apotek dan menekan arus kas untuk operasional sehari-hari.
Respons apotek dan langkah efisiensi
Untuk menghadapi penurunan pendapatan, apotek menerapkan langkah-langkah efisiensi. Rizal menyebutkan beberapa kebijakan yang diambil para pemilik apotek untuk mengurangi risiko stok dan beban modal.
Otomatis kamipun harus melakukan berbagai langkah efisiensi menyikapi menurunnya pendapatan,
Langkah yang dilaporkan antara lain pembatasan pembelian dari distributor dan pengurangan volume pembelian untuk menghindari stok berlebih yang berisiko mengalami perubahan harga.
Prospek ke depan
Jika nilai tukar rupiah tidak stabil, tekanan pada harga obat berpotensi meluas ke semua kategori obat. Hal ini bisa memperburuk akses obat bagi pasien dengan penyakit kronis. Pengawasan dan kebijakan produsen serta distributor akan menentukan seberapa cepat dampak ini terasa oleh konsumen.
Ringkasan:
- Pelemahan rupiah dorong kenaikan harga obat hingga 3 persen.
- Obat resep belum banyak terdampak karena stok lama.
- Apotek mengurangi pembelian dan menerapkan efisiensi operasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Pangan Bukan Instrumen Tekanan Geopolitik
Mendag Budi Santoso menegaskan pangan tak boleh jadi alat tekanan geopolitik dan mendorong solusi WTO untuk...
MenPPPA Pastikan Pendampingan Terbuka bagi Korban Perundungan
MenPPPA Arifah Fauzi memastikan layanan pendampingan tetap tersedia bagi anak korban perundungan; Kemenkes b...
Kemenperin Buka Ruang Gen Z untuk Kembangkan Industri Batik
Kemenperin ajak Gen Z berperan dalam pengembangan industri batik melalui desain, teknologi, dan pemasaran di...
Tokoh Konghucu Budi Tanuwibowo Masuk Wantimpres
Budi Tanuwibowo dilantik jadi anggota Wantimpres; ia terharu karena komunitas Konghucu yang minoritas mendap...
MenPPPA Pastikan Penanganan Perundungan Anak di Tangsel
MenPPPA Arifah Fauzi pastikan penanganan dugaan perundungan anak di Tangerang Selatan prioritaskan keamanan,...
Komdigi Minta Operator Ubah Paket Non-Rollover
Komdigi minta operator segera ubah paket non-rollover agar sisa kuota dilindungi secara ekonomi, bukan hanya...