Nasional

Harga Gabah Naik, Petani Kolaka Mulai Menabung Emas

Bagikan:
Petani Kolaka menunjukkan gabah dan perhiasan emas sebagai simbol peningkatan pendapatan

Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) bagi gabah mulai dirasakan petani di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Bupati Kolaka Amri melaporkan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada audiensi di Jakarta, Senin 24 Agustus 2026, bahwa kenaikan harga meningkatkan kesejahteraan petani. Dampak yang terlihat termasuk kebiasaan baru menyimpan pendapatan dalam bentuk emas dan kenaikan produksi padi. Pemerintah daerah juga mengusulkan pembangunan Rice Milling Unit (RMU) terintegrasi dan menyiapkan lahan bersertifikat seluas 4 hektare.

Dampak langsung pada pendapatan petani

Bupati Amri mengatakan kenaikan harga gabah memberi ruang bagi petani untuk menabung dan memperkuat posisi tawar saat menjual hasil panen. Sebagian petani bahkan mulai membeli emas sebagai instrumen tabungan. Menurut Amri, kebiasaan menabung emas menjadi salah satu indikator peningkatan kesejahteraan keluarga petani.

Dengan harga gabah hari ini di Kabupaten Kolaka, kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat. Dampaknya terasa ke petani.

Lonjakan produksi dan serapan Bulog

Produksi padi di Kolaka meningkat signifikan. Pada periode 2020-2024 produksi rata-rata tercatat sekitar 47.000 ton, lalu naik menjadi sekitar 73.000 ton pada 2025. Kenaikan sekitar 26.000 ton itu membantu memperkuat ketersediaan pangan di daerah.

Periode Produksi (ton) Keterangan
2020-2024 ~47.000 Rata-rata periode
2025 ~73.000 Kenaikan sekitar 26.000 ton
Serapan Bulog 2025 ~20.000 Telah terserap oleh Perum Bulog

Tantangan pascapanen dan usulan RMU

Meski produksi meningkat, Kolaka masih menghadapi persoalan rantai pasok yang panjang dan fasilitas pascapanen yang terbatas. Sebagian hasil panen harus dikirim ke luar daerah, seperti Sidrap di Sulawesi Selatan, sebelum kembali masuk ke Kolaka. Kondisi ini mengurangi efisiensi dan potensi nilai tambah bagi petani.

Untuk mengatasi masalah itu, Pemkab Kolaka mengajukan pembangunan RMU yang terintegrasi dengan lumbung pangan. Pemerintah daerah telah menyiapkan lahan bersertifikat seluas 4 hektare dan meminta dukungan pusat untuk pembangunan fasilitas tersebut.

Kami sudah siapkan tanah, sudah ada sertifikat. Kalau berkenan, kami minta dukungan RMU, lumbung pangan dan RMU yang terintegrasi. Lahannya kami siapkan 4 hektare.

Respons Kementan dan dukungan teknis

Menteri Pertanian menyambut usulan itu dan meminta koordinasi segera dengan Perum Bulog. Amran menekankan pentingnya kesiapan lahan agar proyek dapat berjalan pada target tahun 2027. Pemerintah pusat juga akan memperkuat dukungan mulai dari produksi hingga pascapanen.

Sebelumnya, Kolaka menerima bantuan mesin pertanian seperti combine harvester, pompa air, traktor roda empat (TR4), dan traktor roda dua (TR2). Dukungan ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan menjaga kelanjutan peningkatan produksi.

Prospek dan implikasi

Dengan harga gabah yang lebih baik serta rencana pembangunan RMU, produksi yang meningkat berpeluang memberi nilai tambah lebih besar bagi petani. Namun, keberlanjutan kenaikan pendapatan tergantung pada perbaikan fasilitas pascapanen dan integrasi rantai pasok. Kolaka menekankan pembangunan pertanian harus berjalan beriringan dengan pengembangan sektor lain, termasuk pertambangan, demi pertumbuhan daerah yang seimbang.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait