Gempa Magnitudo 7,7 di Sulut: Penyebab dan Potensi Tsunami
Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Sulawesi Utara pada pukul 06.37 WIB, Senin, 8 Juni 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa ini bersifat dangkal dan disebabkan oleh aktivitas subduksi lempeng, serta berpotensi memicu tsunami dengan status siaga dan waspada.
Penyebab gempa
BMKG menjelaskan penyebab gempa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter. Analisis menunjukkan gempa termasuk jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng. Selain itu, mekanisme pergerakan gempa tercatat sebagai thrust fault.
"Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Akibat adanya aktivitas subduksi lempeng,"
Penjelasan itu disampaikan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam keterangan pers pada Senin pagi.
Intensitas dan wilayah terdampak
Getaran gempa dirasakan di beberapa daerah dengan skala intensitas berbeda menurut BMKG. Intensitas terbesar tercatat di Morotai, Halmahera Utara.
Rincian intensitas yang dilaporkan BMKG:
- Morotai, Halmahera Utara: skala IV MMI
- Kabupaten Gorontalo Utara: skala III–IV MMI
- Beberapa wilayah lain: skala III MMI
BMKG menjelaskan bahwa skala IV MMI berarti "dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang; terjadi gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi." Skala III digambarkan sebagai getaran seperti truk besar berlalu.
Potensi tsunami dan imbauan
Hingga siang hari, BMKG belum menerima laporan kerusakan akibat gempa tersebut. Namun, hasil pemodelan dinyatakan menunjukkan adanya potensi tsunami, sehingga status diberi label siaga dan waspada.
"Masyarakat agar tetap tenang dan memastikan informasi resmi hanya bersumber dari lembaga tersebut melalui kanal komunikasi yang telah terverifikasi. Rekomendasi bagi masyarakat di daerah berstatus siaga untuk segera menjauhi pantai menuju tempat yang lebih tinggi,"
Imbauan ini disampaikan agar masyarakat tidak terpancing informasi tidak diverifikasi. Penduduk di pesisir yang berada dalam kawasan berstatus siaga diminta menjauhi pantai dan menuju lokasi yang lebih tinggi.
BMKG menjadi rujukan utama informasi teknis terkait kejadian ini. Masyarakat dianjurkan mengikuti perkembangan melalui kanal komunikasi resmi lembaga tersebut hingga status ancaman dinyatakan aman.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Pangan Bukan Instrumen Tekanan Geopolitik
Mendag Budi Santoso menegaskan pangan tak boleh jadi alat tekanan geopolitik dan mendorong solusi WTO untuk...
MenPPPA Pastikan Pendampingan Terbuka bagi Korban Perundungan
MenPPPA Arifah Fauzi memastikan layanan pendampingan tetap tersedia bagi anak korban perundungan; Kemenkes b...
Kemenperin Buka Ruang Gen Z untuk Kembangkan Industri Batik
Kemenperin ajak Gen Z berperan dalam pengembangan industri batik melalui desain, teknologi, dan pemasaran di...
Tokoh Konghucu Budi Tanuwibowo Masuk Wantimpres
Budi Tanuwibowo dilantik jadi anggota Wantimpres; ia terharu karena komunitas Konghucu yang minoritas mendap...
MenPPPA Pastikan Penanganan Perundungan Anak di Tangsel
MenPPPA Arifah Fauzi pastikan penanganan dugaan perundungan anak di Tangerang Selatan prioritaskan keamanan,...
Komdigi Minta Operator Ubah Paket Non-Rollover
Komdigi minta operator segera ubah paket non-rollover agar sisa kuota dilindungi secara ekonomi, bukan hanya...