Nasional

Frans Kaisiepo: Putra Papua yang Kibarkan Merah Putih

Bagikan:
Potret Frans Kaisiepo, pahlawan nasional asal Papua yang berjuang untuk integrasi

Frans Kaisiepo, kelahiran 10 Oktober 1921 di Wardo, Biak, Papua, dikenal sebagai tokoh yang berani mengibarkan Bendera Merah Putih di Papua pada 31 Agustus 1945 dan konsisten menentang kekuasaan Belanda. Ia aktif berpolitik, menolak rencana Belanda memasukkan Papua ke Negara Indonesia Timur, dipenjara karena perlawanan politik (1954-1961), mendukung Trikora, kemudian menjabat Gubernur Irian Barat (1964-1973). Frans wafat pada 10 April 1979 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres Tahun 1993.

Awal perjuangan dan aksi simbolis

Frans Kaisiepo mulai menonjol sebagai tokoh pergerakan Papua pasca-Proklamasi. Pada 31 Agustus 1945, bersama rekan seperjuangan, ia mengibarkan Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di tanah kelahirannya. Tindakan ini menjadi pernyataan keberpihakannya kepada Indonesia saat pengaruh Belanda masih nyata.

Menolak Negara Indonesia Timur dan Konferensi Malino

Pada Juli 1946 Frans hadir di Konferensi Malino sebagai satu-satunya wakil putra Papua. Di sana ia menolak gagasan Belanda yang hendak memasukkan Papua ke dalam Negara Indonesia Timur. Frans juga mengusulkan penggunaan nama Irian sebagai pengganti sebutan Papua, yang kemudian berperan dalam dinamika politik wilayah.

Organisasi politik dan penahanan

Pada 10 Juli 1946 ia mendirikan Partai Indonesia Merdeka sebagai kendaraan perjuangan pro-Republik di Papua. Sikap tegasnya menolak diktat kolonial berbuah konsekuensi; ketika ditunjuk mewakili Belanda dalam Konferensi Meja Bundar, Frans menolak posisi itu dan sejak 1954 menjalani status tahanan politik hingga 1961.

Peran saat Trikora dan proses diplomasi

Ketika Presiden Soekarno mencanangkan Trikora pada 19 Desember 1961, perjuangan mengakhiri kekuasaan Belanda di Papua memasuki fase baru. Frans berada di barisan pendukung Trikora dan turut membantu pergerakan sukarelawan. Proses selanjutnya berujung pada Perjanjian New York (15 Agustus 1962) dan serah-terima administrasi melalui UNTEA sebelum penyerahan ke Indonesia pada 1 Mei 1963.

Jabatan pemerintahan dan warisan

Setelah era konflik, Frans dipercaya memegang posisi pemerintahan. Ia menjabat sebagai Gubernur Irian Barat dari 1964 hingga 1973 dan aktif di lembaga negara mewakili kepentingan Papua. Warisannya terletak pada konsistensi memperjuangkan masa depan Papua dan membawa aspirasi masyarakat asli ke panggung nasional.

Pengakuan dan penghormatan

Frans Kaisiepo dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih setelah wafat pada 10 April 1979. Negara kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 077/TK/1993. Namanya diabadikan pada beberapa fasilitas strategis dan simbol kebanggaan, antara lain:

  • Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak
  • KRI Frans Kaisiepo (kapal perang TNI AL)
  • Wajah pada uang kertas Rp10.000 Tahun Emisi 2016, mulai diedarkan 19 Desember 2016

"Bapak sudah hidup tenang di surga. Karena harapan cita-citanya untuk membangun pendidikan orang asli Papua telah direalisasikan Pemerintah Provinsi Papua saat ini,"

kata Maria Magdalena Kaisiepo, istri almarhum, yang menggambarkan harapan keluarga terhadap warisan pendidikan dan pembangunan di Papua.

Perjalanan hidup Frans Kaisiepo menegaskan peran tokoh Papua dalam proses integrasi dengan Indonesia. Dari aksi pengibaran bendera hingga jabatan pemerintahan, jejaknya menjadi bagian penting dalam sejarah hubungan Papua dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait