BMKG: El Nino Berpotensi Kuat, Kemarau 2026 Lebih Kering
BMKG memperbarui prediksi musim kemarau 2026 karena meningkatnya peluang El Nino yang diperkirakan berkembang pada pertengahan 2026 dan berpotensi memperparah kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. Pengumuman itu disampaikan pada konferensi pers di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026, dengan peringatan agar pemerintah dan sektor terkait segera menyiapkan langkah antisipasi.
Peluang dan intensitas El Nino
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut peluang terjadinya El Nino pada pertengahan 2026 sangat besar. BMKG memperkirakan peluang intensitas kategori moderat mencapai 98%, sedangkan peluang untuk kategori kuat diperkirakan 62%.
“Prediksi El Nino mulai pertengahan 2026 memiliki peluang intensitas kategori moderat mencapai 98 persen. Sedangkan peluang El Nino kategori kuat diperkirakan mencapai 62 persen pada periode yang sama,”
Awal, puncak, dan penyebaran musim kemarau
BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan dimulai bertahap. Pada Juni 2026, musim kemarau diprediksi mulai terjadi di 198 zona musim, mencakup sekitar 31,6% luas daratan Indonesia. Pada Juli, kemarau diperkirakan meluas ke 66 zona musim tambahan atau sekitar 7,26% daratan.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di 369 zona musim yang mencakup 48,84% luas daratan. Selain itu, BMKG mencatat 308 zona musim akan memasuki musim kemarau lebih awal dibandingkan kondisi normal tahunan, yang setara dengan 39,77% luas daratan Indonesia.
Curah hujan, durasi, dan wilayah terdampak
BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 cenderung lebih kering. Sebanyak 482 zona musim atau sekitar 56,18% wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau. Selain itu, durasi kemarau diperkirakan lebih panjang dari biasanya di 437 zona musim atau sekitar 48,77% wilayah daratan.
Percepatan awal musim kemarau dan penurunan curah hujan itu memiliki potensi memperburuk kondisi ketersediaan air, pertanian, dan pasokan pangan di daerah rawan.
Imbauan antisipasi
BMKG meminta pemerintah daerah, sektor pertanian, ketahanan pangan, dan pengelola sumber daya air menggunakan prediksi iklim ini sebagai dasar perencanaan. Langkah antisipasi yang dimaksud meliputi pemantauan ketersediaan air, penjadwalan tanam yang adaptif, hingga kesiapan layanan darurat untuk wilayah paling terdampak.
“Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau lebih maju. Kondisi ini perlu diantisipasi berbagai sektor untuk meminimalkan dampak yang berpotensi ditimbulkan nantinya,”
Dengan peluang El Nino moderat hingga kuat, fokus pada mitigasi dan adaptasi sejak dini menjadi krusial untuk mengurangi risiko kekeringan dan dampak ekonomi pada 2026.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kementan Siapkan 56 Ribu Pompa Air untuk Mitigasi Kekeringan 2026
Kementan menyiapkan 56 ribu pompa air di 2026 untuk mitigasi kekeringan dan menjaga pasokan air di lahan saw...
Kemensos Salurkan Bansos Rp390 Miliar untuk Warga Lampung
Kemensos menyalurkan bansos Rp390,27 miliar di Lampung pada 25 Juli 2026 untuk kebutuhan dasar dan pemberday...
Lemonilo Ajak Anak Indonesia Berani Bermimpi
Co-Founder Lemonilo mengajak anak Indonesia bermimpi tinggi dan memperkuat komitmen perusahaan untuk dukung...
Kemensos Salurkan Rp278 Juta untuk 420 Korban Kebakaran Sukabumi
Kemensos menyalurkan Rp278.415.408 bantuan logistik untuk 420 korban kebakaran di Kampung Adat Cipta Mulya,...
Beasiswa BPDDI 2026 Dibuka, Dosen Berkesempatan Kuliah S3 Gratis
Kemdiktisaintek membuka Beasiswa BPDDI 2026 untuk dosen perguruan tinggi, menyediakan dana hidup, transporta...
15 Siswa Sekolah Rakyat Tampil di JFC 2026 dengan Karya Daur Ulang
15 siswa Sekolah Rakyat Jember tampil di JFC 2026 (24–26 Juli) memamerkan kostum daur ulang dan mengasah kre...