Lokal

KEM Putra Denai Berjuang Jaga Ekowisata Mangrove

Bagikan:
Pengunjung dan papan informasi di kawasan ekowisata mangrove Denai Kuala

Denai Kuala, Deli Serdang — Kelompok Ekowisata Mangrove (KEM) Putra Denai berupaya mempertahankan dan mengembangkan kawasan mangrove seluas sekitar 48 hektare. Program rehabilitasi pesisir M4CR menanam 52.800 bibit Rhizophora sp. pada 2024–2025, tetapi kelompok menghadapi ancaman ekologis, keterbatasan fasilitas, dan masalah partisipasi masyarakat.

Data penanaman dan pelaksanaan M4CR

Kawasan hutan lindung desa yang dikelola KEM Putra Denai memiliki area sekitar 48 ha, dimana sekitar 16 ha telah ditanami mangrove. Program M4CR menerapkan pola penanaman pengkayaan 3.000 bibit.

Pada 2024 kegiatan penanaman dilaksanakan di lahan 16 ha dengan 48.000 bibit utama dan penyulaman sebesar 10 persen atau sekitar 4.800 bibit. Pada 2025 dilanjutkan pemeliharaan dan penyulaman, dengan total perawatan bibit sekitar 9.600 batang.

Ancaman dan tantangan di lapangan

Ketua KEM Putra Denai, Eliyas, menyatakan bahwa pekerjaan rehabilitasi tidak cukup sekadar menanam. Bibit muda kerap diserang oleh kepiting kecil, sehingga perawatan intensif diperlukan.

"Kita bukan hanya menanam, tetapi juga harus menjaga dan merawatnya. Bibit yang masih muda sangat rentan, salah satunya karena serangan kepiting,"

Selain itu, aktivitas penggalian pasir dua tahun lalu telah mengubah struktur tanah pesisir. Eliyas menyebut kondisi pantai yang semula lebih lebar kini mengalami kerusakan dan beberapa bagian roboh.

"Dulu pantainya lebih lebar. Sekitar dua tahun lalu ada penggalian pasir yang dimuat ke kapal. Setelah itu tanah di bagian sini menjadi rusak dan ada yang roboh,"

Kelompok juga khawatir praktik pengambilan kerang dengan alat seperti cangkuk besi merusak habitat kepiting dan kepah. Mereka mendorong masyarakat untuk membatasi pengambilan dan memperhatikan ukuran layak jual.

Pengembangan ekowisata dan manfaat ekonomi

Kawasan mangrove kini dikembangkan menjadi destinasi wisata. Pada akhir pekan, Mangrove Putra Denai mampu menarik ratusan pengunjung, memberi pemasukan tambahan lewat jasa parkir dan kegiatan ekonomi lain.

Namun Eliyas menegaskan bahwa pemasukan belum cukup meningkatkan kesejahteraan anggota.

"Kalau untuk kebutuhan sehari-hari, hasilnya masih jauh dari cukup. Kita berharap kawasan ini terus berkembang sehingga masyarakat juga bisa merasakan manfaat ekonominya,"

Saat ini KEM Putra Denai beranggotakan sekitar 20 orang menurut data program, dengan sekitar 17 anggota aktif yang mengelola kawasan.

Infrastruktur dasar dan dukungan pemerintah

Persoalan paling mendesak adalah akses air bersih. Warga dan pengunjung harus mendatangkan air dari jarak sekitar 3 kilometer. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata butuh infrastruktur dasar selain fasilitas wisata.

Eliyas berharap ada dukungan konkret dari pemerintah, termasuk fasilitas, hibah, dan penyelesaian izin pengelolaan yang saat ini menjadi kendala kelompok saat mengajukan bantuan desa.

"Kami pernah meminta bantuan ke desa, tetapi katanya belum ada izin untuk mengelola. Jadi itu yang menjadi kendala kami,"

Prospek dan kebutuhan ke depan

KEM Putra Denai terus berupaya menjadikan rehabilitasi mangrove sebagai fondasi konservasi sekaligus sumber penghidupan. Tantangannya kini memastikan mangrove tetap hidup, habitat terlindungi, dan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang menjaga kawasan.

Untuk mencapai itu diperlukan perbaikan infrastruktur air, fasilitas wisata, perlindungan habitat, dan kepastian dukungan perizinan dari pemerintah.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait