Double Pyramid Thread Lift: Teknik Baru dari Dokter Indonesia
Assoc. Prof. Dr. dr. Teguh Tanuwidjaja memperkenalkan teknik Double Pyramid Thread Lift pada Juli 2026 di forum internasional. Presentasi berlangsung pada Global Aesthetics Summit 2026 di Goa, India, dan ia juga memaparkan konsep facial optimization di sesi di Bali. Teknik ini dikembangkan dari pengalaman klinis lebih dari dua dekade dan menekankan keamanan, personalisasi, serta hasil yang tampak alami.
Presentasi internasional dan inti teknik
Pada forum di Goa, Dr. Teguh membawakan materi berjudul The Ultimate Non-Surgical Superficial Facelift: Lifting–Tightening–Volumizing Thread. Ia menjelaskan bahwa pendekatan Double Pyramid Thread Lift menawarkan efek pengangkatan, pengencangan jaringan, dan pemberian volume secara lebih proporsional. Metode ini fokus pada distribusi tarikan benang yang stabil sehingga hasil lifting lebih optimal.
Prinsip kerja dan keamanan
Teknik ini lahir dari praktik klinis selama lebih dari 20 tahun. Tujuannya adalah menciptakan tarikan benang yang merata agar wajah terangkat tanpa mengorbankan ekspresi natural. Pendekatan ini juga menekankan pemahaman mendalam terhadap anatomi wajah dan penyesuaian prosedur sesuai karakteristik pasien.
"Teknik ini lahir dari pengalaman klinis yang panjang dalam menangani berbagai karakteristik wajah. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan efek lifting yang kuat, tetapi juga menjaga keseimbangan anatomi sehingga hasilnya tetap natural dan aman bagi pasien," ujar Dr. Teguh.
Konsep facial optimization dan kombinasi modalitas
Di sesi lain, Dr. Teguh mempresentasikan Compatible Combination Modalities for Facial Optimization. Ia menekankan bahwa optimalisasi wajah modern tidak cukup hanya dengan satu tindakan. Kombinasi beberapa modalitas diperlukan untuk hasil yang proporsional dan alami.
Analisis struktur wajah menjadi langkah awal dalam menyusun rencana terapi. Faktor-faktor yang diperhatikan meliputi:
- Struktur tulang wajah
- Distribusi jaringan lemak
- Kondisi ligamen dan jaringan penopang
- Kualitas kulit
"Setiap wajah memiliki anatomi dan proses penuaan yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu tindakan yang cocok untuk semua orang," ujar Dr. Teguh.
"Pendekatan yang kami kembangkan selalu diawali dengan analisis anatomi. Sehingga terapi yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien," tambahnya.
Praktik klinis, pengembangan, dan prospek
Pengembangan teknik ini berlangsung di Teta Clinic, yang sudah berdiri sejak tahun 2000. Selama lebih dari 25 tahun, klinik tersebut mengembangkan pendekatan berbasis evidence-based medicine di bidang anti-aging, thread lift, dan facial optimization. Forum ilmiah internasional memberi ruang bagi pertukaran pengalaman dan kolaborasi riset.
"Harapannya semakin banyak kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan yang melibatkan dokter Indonesia. Dengan begitu, inovasi yang lahir dari praktik klinis di dalam negeri juga dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu kedokteran estetika di tingkat internasional," ujar Dr. Teguh.
Keikutsertaan teknik ini di forum internasional menunjukkan bahwa inovasi dari praktik klinis dalam negeri mulai mendapat perhatian global. Langkah selanjutnya adalah uji lebih luas dan kolaborasi riset untuk memperkuat bukti klinis serta adopsi yang lebih luas dalam komunitas medis estetika.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Edukasi Gigi di LRT Jabodebek Sasar 50 Murid Disabilitas
Edukasi gigi bagi 50 murid penyandang disabilitas digelar di kereta LRT Jabodebek saat Hari Anak Nasional, d...
Hari Hepatitis Sedunia: Sejarah, Makna, dan Upaya Pencegahan
Hari Hepatitis Sedunia diperingati 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, dan perluasan akses pen...
BPJS: 79% Penderita Penyakit Kronis di Banten Belum Ikut Prolanis
BPJS: 358.801 warga Banten penderita penyakit kronis, namun 79% belum ikut Prolanis; program fokus pada diab...
Australia Dukung Transformasi Layanan Kesehatan Primer Indonesia
Australia berkomitmen dukung transformasi layanan kesehatan primer Indonesia lewat riset, inovasi, dan kemit...
Kemenkes: 60% Lebih Penduduk RI Masih Rentan Hepatitis B
Kemenkes: Lebih dari 60% penduduk Indonesia masih rentan hepatitis B; SKI 2023 sebut prevalensi aktif 2,4% d...
Menkes: Layanan Kesehatan Primer Kunci Manfaatkan Bonus Demografi
Menkes Budi Gunadi Sadikin: penguatan layanan kesehatan primer kunci manfaatkan bonus demografi dan hindari...