Alarm Demensia: 36% Lansia Indonesia Terindikasi Gangguan Kognitif
Hasil pemeriksaan kesehatan massal menunjukkan 36 persen dari 7 juta lansia terindikasi mengalami gangguan fungsi kognitif, yang bisa mengarah pada demensia. Temuan ini disampaikan Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, dalam wawancara pada 24 Mei 2026.
Data cek kesehatan dan skala masalah
Program cek kesehatan gratis memeriksa sekitar 7 juta lansia. Dari jumlah itu, ditemukan indikasi gangguan kognitif pada 36 persen responden. Angka tersebut setara dengan sekitar dua juta lansia yang berisiko mengalami kondisi lebih berat.
Gejala muncul lebih dini
dr. Imran memperingatkan gejala demensia kini muncul pada usia lebih muda dibandingkan sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa kasus yang dulu muncul di usia 65-70 tahun kini mulai terlihat pada usia 50-60 tahun, bahkan gejala awal telah dirasakan sejak usia 40 tahun, seperti gangguan ingatan.
"Saya diskusi dengan dokter spesialis saraf, orang demensia umurnya semakin muda... itu alarm yang perlu perhatian kita,"
Jenis demensia dan faktor penyebab
Beberapa jenis demensia yang sering ditemukan antara lain penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Menurut dr. Riwanti Yuliami, Dokter Spesialis Saraf, demensia dapat mengganggu interaksi sosial dan kemampuan bekerja.
"Demensia itu istilah medis... ini penyakit yang bisa dicegah,"
Ia menjelaskan ada faktor yang tidak dapat diubah, seperti penuaan, dan faktor yang dapat dicegah, seperti penyakit kardiometabolik. Dalam paparan yang disampaikan juga disebutkan kaitan antara demensia jenis Parkinson dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.
Langkah pencegahan yang direkomendasikan
Para ahli menekankan pencegahan melalui gaya hidup sehat. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki disebut efektif menurunkan risiko. dr. Imran menyatakan berjalan kaki 20 menit setiap hari dapat menurunkan risiko demensia hingga 40 persen.
Selain olahraga dan aktivitas fisik, beberapa kebiasaan yang direkomendasikan meliputi:
- Tidur cukup setiap malam
- Berolahraga secara teratur dan menjaga berat badan ideal
- Menerapkan pola makan sehat, kaya antioksidan dan omega-3
- Membatasi konsumsi minuman beralkohol
- Melatih otak secara berkala, misalnya membaca atau bermain catur
- Menjaga hubungan sosial dan memperbanyak interaksi
- Menghindari stres berlebihan
- Menjaga tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol dalam batas normal serta pemeriksaan rutin
Implikasi dan langkah berikutnya
Dengan jumlah lansia yang terus meningkat, temuan ini menjadi peringatan bagi pembuat kebijakan dan keluarga. Intervensi pencegahan dini, pemeriksaan rutin, serta program kesehatan komunitas diperlukan untuk menahan laju peningkatan kasus dan menjaga kualitas hidup lansia.
Berita Terkait
Dante Samakan Filosofi 'Rumoh Aceh' dengan Perlindungan Imunisasi Anak
Wamenkes Dante mengaitkan filosofi Rumoh Aceh dengan peran imunisasi sebagai perlindungan anak, sambil sorot...
Posyandu Bertransformasi Jadi Pos Kesehatan Keluarga (Posga)
Wamenkes Dante menyatakan posyandu berkembang jadi pos kesehatan keluarga (posga), memperluas layanan untuk...
BPOM Temukan 22 Obat Herbal Mengandung Bahan Kimia Berbahaya
BPOM menemukan 22 merek obat bahan alam mengandung bahan kimia obat berbahaya pada pengawasan Maret 2026; 12...
Kemenkes: Imunisasi Lengkap Kunci Lindungi Anak
Kemenkes menegaskan imunisasi lengkap kunci melindungi anak dan membentuk kekebalan kelompok; imbauan disamp...
Klinik FBC Hadirkan XERF: Pengencangan Kulit Tanpa Operasi
FBC Clinic luncurkan XERF dari Korea pada 21 Mei 2026, menawarkan pengencangan kulit tanpa operasi dengan bi...
Dokter Ajak Tenaga Kesehatan Pakai Medsos untuk Lawan Hoaks Imunisasi
Dokter anak Aslinar mengajak tenaga kesehatan menggunakan media sosial untuk meluruskan hoaks imunisasi dan...