Akademisi: Konflik Timteng Berisiko Ganggu Energi Indonesia
Dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, memperingatkan bahwa memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi dan stabilitas ekonomi Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara pada Sabtu, 19 September 2026, yang menyorot dampak langsung perubahan geopolitik terhadap harga minyak, anggaran negara, dan ketahanan domestik.
Dampak pada pasokan dan harga energi
Tia menjelaskan bahwa Timur Tengah masih menjadi pemasok utama energi bagi banyak negara, termasuk negara-negara Asia Tenggara. Oleh karena itu, eskalasi konflik di kawasan tersebut bisa menekan pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak akan memengaruhi harga bahan bakar minyak di dalam negeri dan menimbulkan tekanan pada anggaran negara. Hal ini menjadi lebih krusial karena pemerintah masih menjalankan kebijakan subsidi untuk menjaga keterjangkauan BBM bagi masyarakat.
Risiko fiskal dan dampak domestik
Menurut Tia, dampak kenaikan harga minyak bukan hanya soal biaya impor. Kenaikan itu berimplikasi pada ruang fiskal pemerintah dan kemampuan untuk membiayai subsidi serta program sosial lainnya.
"Kalau harga minyak mencapai 108 dolar per barel, pemerintah harus menyiapkan subsidi BBM yang semakin besar,"
Ia menambahkan bahwa pencabutan subsidi secara tiba-tiba juga berisiko menimbulkan tekanan ekonomi baru bagi masyarakat. Kenaikan harga energi yang tidak dikelola hati-hati dapat memperburuk ketidakstabilan sosial dan ekonomi domestik.
Upaya diplomasi dan rekomendasi kebijakan
Tia menekankan pentingnya forum internasional dan dialog diplomatik untuk meredam konflik dan melindungi kepentingan energi global. Ia mendorong negara-negara untuk mengutamakan penyelesaian damai demi mengurangi ketegangan geopolitik.
"Isu energi sangat esensial, bukan hanya menyangkut keamanan global, tetapi juga berkaitan dengan keamanan dalam negeri,"
Untuk langkah kebijakan, ia mengajak pemerintah dan pemangku kepentingan memperkuat ketahanan energi, menjaga ruang fiskal, serta memperkuat diplomasi multilateral untuk stabilitas pasokan.
Implikasi jangka panjang
Perubahan geopolitik yang cepat menuntut strategi energi yang adaptif dan kebijakan fiskal yang berkelanjutan. Dengan demikian, perhatian terhadap ketahanan energi harus berjalan seiring upaya menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di dalam negeri.
Langkah pencegahan dan kerja sama internasional dinilai krusial untuk meredam dampak konflik sekaligus melindungi kepentingan nasional Indonesia dalam jangka panjang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Presiden Prabowo Janji Gelar Ratas Bahas Pendidikan Gratis
Presiden Prabowo akan menggelar ratas untuk membahas pendidikan negeri gratis dari SD hingga universitas, se...
Menko PMK: Penguatan Ekosistem Halal Perkuat Kepercayaan Konsumen
Menko PMK Pratikno: penguatan ekosistem halal penting untuk kepercayaan konsumen dan daya saing produk Indon...
Presiden Prabowo Hadiri Peringatan 1 Abad Pondok Modern Gontor
Presiden Prabowo dijadwalkan menghadiri Peringatan 1 Abad Pondok Modern Gontor di Ponorogo; dihadiri ribuan...
Kemenkop Gandeng Muhammadiyah Perkuat Koperasi Berbasis Masjid
Kemenkop bekerja sama dengan Muhammadiyah untuk kembangkan koperasi berbasis masjid, memperluas akses pembia...
5 Peristiwa Penting yang Terjadi pada 19 September
19 September menyimpan peristiwa penting: Tunjungan, Rapat Ikada, Aortic Dissection Awareness Day, kemerdeka...
MenPPPA Kecam Kekerasan di Ruang Publik, Minta Perlindungan Terpadu
MenPPPA Arifah Fauzi mengecam kekerasan di food court Jakarta, mendorong perlindungan korban, SOP keamanan,...