Kesehatan

Capaian ASI Eksklusif 66%: Tren Positif dan Tantangan Dua Minggu Awal

Bagikan:
Ibu menyusui memegang bayi di ruang laktasi

Jakarta: Capaian pemberian ASI eksklusif di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Menurut data WHO dan UNICEF, cakupan nasional kini mencapai sekitar 66 persen.

Capaian nasional dan ketimpangan wilayah

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, menyampaikan capaian ini dalam perbincangan dengan RRI Pro 3, Senin, 3 Agustus 2026. Meski angka nasional meningkat, distribusinya belum merata.

“Namun, jika dilihat per daerah, masih ada kesenjangan seperti misalnya di Papua, Gorontalo, dan Kepulauan Riau,” ujar Naomi, menunjukkan masih ada wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.

Tantangan utama: dua minggu pertama pascapersalinan

Naomi menilai periode dua minggu pertama setelah persalinan adalah fase paling krusial. Pada masa itu banyak ibu mengalami kesulitan yang menghambat pemberian ASI eksklusif.

“Dua minggu pertama setelah persalinan menjadi periode paling krusial karena banyak ibu mengalami berbagai kesulitan,”

“Mulai dari ASI yang belum keluar optimal hingga kekhawatiran terhadap kondisi bayinya.”

Menurut Naomi, minimnya pendampingan medis dan sosial selama fase ini memperbesar risiko kegagalan menyusui eksklusif.

Peran keluarga dan dukungan tempat kerja

Keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu. Dukungan lingkungan terdekat dinilai sangat berperan.

Naomi menekankan pentingnya peran suami, keluarga inti, dan mertua agar ibu dapat melewati masa-masa awal menyusui. Selain itu, tempat kerja juga perlu menyediakan fasilitas yang memadai.

  • Penyediaan ruang laktasi di tempat kerja
  • Kesempatan untuk memompa ASI saat jam kerja
  • Dukungan sosial dari keluarga dan rekan kerja

Tanpa dukungan tersebut, target pemberian ASI eksklusif selama enam bulan sulit tercapai.

IDAI siapkan modul pendampingan

Untuk menjawab tantangan ini, IDAI menyusun modul pendampingan menyusui sebagai panduan bagi tenaga kesehatan, terutama dokter anak.

“Modul tersebut berfokus pada penanganan berbagai masalah yang umum terjadi dalam dua minggu pertama setelah persalinan,”

“Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar tidak mudah percaya pada berbagai mitos mengenai produksi ASI.”

Manfaat ASI dan implikasi kebijakan

Naomi mengingatkan bahwa ASI mengandung banyak komponen yang tidak dapat digantikan formula. Ia menegaskan pentingnya edukasi publik tentang keunggulan ASI.

“ASI bukan sekadar sumber nutrisi, tetapi juga mengandung berbagai komponen penting yang tidak dapat digantikan susu formula,”

“ASI mengandung hormon pertumbuhan, antibodi, dan zat bioaktif yang berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak.”

Ke depan, upaya peningkatan cakupan ASI eksklusif perlu bersifat multisektoral: memperkuat layanan pascapersalinan, memperluas fasilitas laktasi di tempat kerja, dan menargetkan intervensi pada provinsi dengan cakupan rendah.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait