IDAI: Cakupan Imunisasi Rendah Picu Potensi KLB Berulang
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, memperingatkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi berisiko memicu kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular kembali terjadi. Pernyataan itu disampaikan dalam Podcast ‘PROKES’ bersama PRO3 RRI di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, lebih dari satu juta anak belum menerima dosis imunisasi yang dianjurkan.
Data dan risiko KLB
Menurut Piprim, sejumlah provinsi memiliki cakupan imunisasi di bawah sepuluh persen. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan KLB berulang di wilayah yang cakupan vaksinasinya rendah. Penurunan cakupan dari angka yang aman dapat langsung berimbas pada munculnya wabah.
Mengapa cakupan harus tinggi
Piprim menekankan pentingnya terbentuknya herd immunity agar komunitas terlindungi. Ia memberi contoh penyakit campak yang sangat menular, bisa menularkan dari satu anak ke 12-16 anak lain.
"Uniknya imunisasi adalah dia harus cakupannya tinggi supaya terjadi kekebalan komunitas atau herd immunity. Jadi makin menular sebuah penyakit, makin harus tinggi cakupan yang ada,"
Untuk penyakit seperti campak, menurutnya cakupan imunisasi harus mencapai lebih dari 95% supaya perlindungan komunitas optimal. Piprim memperingatkan bahwa penurunan cakupan dari 95% ke sekitar 70% sudah cukup memicu KLB.
Ketersediaan vaksin dan tantangan pemanfaatan
Meski vaksin tersedia gratis di fasilitas kesehatan pemerintah, masalah utama adalah pemanfaatan yang belum maksimal. Piprim mengatakan ketersediaan vaksin tidak otomatis menjamin cakupan tinggi jika masyarakat tidak datang untuk divaksin.
"Oleh karena itu, kita butuh kerja sama semua pihak supaya cakupan imunisasi itu tetap tinggi. Vaksinnya sudah ada gratis di puskesmas, di posyandu, tapi nggak dimanfaatkan, tentu saja KLB-nya akan tetap ada,"
Imbauan dan langkah ke depan
IDAI mengimbau pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan komunitas untuk memperkuat program imunisasi. Upaya yang disarankan mencakup sosialisasi intensif, penjangkauan ke kelompok berisiko, dan pemantauan cakupan secara berkala.
Untuk pembahasan lebih lengkap tentang vaksinasi dan pentingnya imunisasi pada anak, Podcast Pro3 Kesehatan ‘PROKES’ menyajikan wawancara dan informasi lanjutan yang dapat disaksikan melalui kanal resmi yang menayangkan program tersebut.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Wamenkes: CKG dan Tracing TBC Harus Jangkau Seluruh Warga
Wamenkes tinjau CKG terintegrasi tracing TBC di Rawasari dan dukung penggunaan perangkat Remedi radiografi d...
Kenali Prokrastinasi dan Cara Efektif Mengatasinya
Prokrastinasi adalah kebiasaan menunda tugas yang dipicu emosi negatif; kenali pemicunya dan terapkan strate...
Kemenkes Dirikan Rumah Sakit Lapangan di Ruteng untuk Korban Gempa
Kemenkes siapkan rumah sakit lapangan di Stadion Golo Dukal, Ruteng, dengan kapasitas 60-100 tempat tidur da...
Wamenkes: RS Darurat di NTT Bisa Dibangun dalam 5–6 Jam
Wamenkes Benjamin Paulus menyatakan Kemenkes membangun RS darurat di NTT dalam 5–6 jam untuk langsung melaya...
Wamenkes Resmikan Pos Kesehatan BSL-2 di Bandara Soekarno-Hatta
Wamenkes meresmikan pos kesehatan BSL-2 di Bandara Soekarno-Hatta (18 Agu 2026) untuk memperkuat deteksi din...
Kaya Gizi dan Serbaguna, Manfaat Pohon Kelapa bagi Kesehatan
Pohon kelapa menyimpan gizi dalam air dan daging serta dimanfaatkan seluruh bagian pohon untuk pangan, bangu...