Kepala BPOM Soroti 3 Tantangan Apoteker: Profesionalisme, Edukasi, AI
Kepala BPOM menyoroti tiga tantangan utama yang harus dihadapi profesi apoteker untuk memperkuat layanan kesehatan nasional. Pernyataan disampaikan saat acara SwipeRx Indonesian Pharmacy Expo & Conference (IPEC) di The Kasablanka Hall, Jakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026. Tantangan itu meliputi profesionalisme, penguatan edukasi masyarakat, serta dampak teknologi digital dan artificial intelligence yang memengaruhi penyebaran informasi kesehatan.
Tiga tantangan utama
Kepala BPOM menekankan perlunya respon terstruktur dari profesi apoteker. Tiga fokus utama yang disebutkan adalah:
- Profesionalisme: apoteker harus terus memperbarui kompetensi mengikuti perkembangan ilmu kefarmasian.
- Edukasi masyarakat: menurunnya ketergantungan pada tenaga kesehatan karena tingginya angka swamedikasi memerlukan pendekatan edukasi berkelanjutan.
- Teknologi dan AI: arus informasi digital berpotensi menyebarkan data kesehatan tidak akurat, sehingga peran apoteker menjadi krusial.
Peran apoteker dalam literasi obat
Menurut BPOM, apoteker harus lebih dekat dengan masyarakat untuk mengatasi misinformasi. Program edukasi dan komunikasi dinilai penting untuk membangun budaya self-care yang bertanggung jawab. Program ini memberi penekanan pada penggunaan obat yang aman dan rasional bagi masyarakat sehari-hari.
Apoteker yang kompeten dan berintegritas merupakan aset utama dalam sistem kesehatan nasional. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi dan profesionalisme apoteker merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan kesehatan bangsa.
Program KIE dan sinergi pemangku kepentingan
BPOM menyatakan terus memperluas program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dengan melibatkan organisasi profesi dan tenaga kesehatan. Upaya ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan dan membekali apoteker sebagai pemberi informasi obat yang terpercaya.
BPOM dan tenaga kesehatan berdiri pada tujuan yang sama, yaitu memastikan setiap terapi dimulai dari produk obat yang aman dan bermutu.
IPEC 2026: forum pembelajaran profesi
SwipeRx IPEC 2026 dihadiri lebih dari 1.500 apoteker, sarjana farmasi, dan tenaga vokasi kefarmasian dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan, penguatan jejaring, dan pembahasan strategi menghadapi tantangan digital.
Implikasi dan langkah ke depan
Penguatan kompetensi apoteker, perluasan program KIE, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi langkah strategis yang disarankan. Dengan pendekatan tersebut, peran apoteker diharapkan tidak hanya melayani permintaan obat, tetapi juga menjadi sumber informasi kesehatan yang dapat diandalkan di era digital.
Berita Terkait
BPOM Dorong Swamedikasi Aman, Apoteker Jadi Kunci
BPOM mendorong swamedikasi aman lewat regulasi adaptif dan peran apoteker, merespons data BPS 2025 yang menu...
Kemenkes Perketat Pengawasan Setelah Empat Dokter Magang Meninggal
Kemenkes perketat pengawasan dan layanan kesehatan untuk dokter magang menyusul empat kematian pada 2026, de...
Gaya Hidup Modern Dorong Lonjakan Minat Program Wellness
Kesibukan modern mendorong minat pada program wellness. Aplikasi U by Prodia menawarkan Prodia Wellness Retr...
Kasus DBD di Bekasi 2026 Capai 1.583, 3 Meninggal
Bekasi catat 1.583 kasus DBD (Januari–Mei 2026) dan 3 kematian; usia 14–44 tahun paling banyak terdampak.
Dokter Ortopedi: Evaluasi Nyeri yang Berlangsung 1-2 Minggu Penting
Dr. I Made Yudi Mahardika: nyeri yang bertahan 1-2 minggu wajib dievaluasi; rontgen atau MRI bisa diperlukan...
Dokter Ortopedi: Nyeri Tulang Perlu Ditelusuri, Bukan Sekadar Obat
Dohar Tobing: nyeri tulang harus ditelusuri penyebabnya; bukan semua kasus cukup obat, beberapa memerlukan t...