BPOM Perkuat Pengawasan MBG untuk Dukung Pencegahan Stunting
BPOM menegaskan penguatan pengawasan terhadap pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mendukung keberhasilan program yang dianggap krusial bagi masa depan bangsa. Pernyataan itu disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar usai acara Safe Sound Fest di SMAN 70 Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
Pengawasan menyeluruh dari bahan baku hingga mitigasi risiko
Taruna mengatakan BPOM memiliki tugas pengawasan yang meliputi aspek produksi makanan hingga langkah mitigasi risiko. Pengawasan itu dilakukan sebagai bagian dari amanat pemerintah dalam pelaksanaan program MBG.
Ia menekankan pentingnya upaya ini karena masih banyak anak Indonesia menghadapi masalah gizi. Menurutnya, persoalan gizi yang perlu diperhatikan meliputi:
- malnutrisi
- stunting
- defisiensi mikronutrien
- kelebihan berat badan
“Badan POM bertekad untuk melakukan pengawasan secara ketat demi menjunjung tinggi dan mensukseskan program makan bergizi gratis. Karena program ini sangat penting untuk masa depan bangsa kita,”
BPOM juga menyatakan akan mengerahkan seluruh unit pelaksana teknis dan jaringan pendukung di berbagai daerah. Langkah ini disebut sebagai dukungan untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia.
“Oleh karena itu bukan hanya sekedar program prioritas Presiden tapi memang program makan bergizi gratis ini merupakan kewajiban negara. Kebutuhan negara dan dan keniscayaan untuk kita support secara maksimal,”
Fokus distribusi: kelompok 3B dan wilayah 3T
Wakil Menteri Kemendukbangga Isyana Bagoes Oka menjelaskan bahwa fokus MBG kini diarahkan kepada kelompok 3B dan wilayah 3T. Menurutnya, Kemendukbangga mendapat tugas untuk mendistribusikan serta melakukan edukasi sesuai tata kelola yang diatur dalam Perpres.
“Memang di perpres (Peraturan Presiden) tata kelola memang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga mendapatkan tugas untuk melakukan distribusi dan edukasi. Sehingga itu yang akan kami terus lakukan,”
Kelompok sasaran 3B dijabarkan sebagai:
- ibu hamil
- ibu menyusui
- balita non-PAUD
Isyana menegaskan bahwa penyediaan MBG bagi kelompok-kelompok tersebut dinilai sangat penting dalam upaya pencegahan stunting.
Target pencegahan: seribu hari pertama kehidupan
Isyana menambahkan bahwa masa pencegahan stunting yang paling efektif adalah pada seribu hari pertama kehidupan. Dengan fokus program pada kelompok 3B, pemerintah berharap dapat menurunkan prevalensi stunting secara bertahap.
Kolaborasi pengawasan dari BPOM dan distribusi edukasi oleh Kemendukbangga menjadi dua pilar utama pelaksanaan MBG. Kedua lembaga ini menyatakan komitmen untuk menjalankan peran sesuai tugas masing-masing demi efektivitas program.
Ke depan, pelaksanaan pengawasan yang ketat dan distribusi yang tepat sasaran akan menjadi kunci penurunan angka stunting dan peningkatan status gizi anak Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Distribusikan 288.865 Interactive Flat Panel ke Sekolah
Pemerintah mendistribusikan 288.865 IFP ke sekolah untuk membantu digitalisasi pendidikan dan meningkatkan m...
43 Juta Siswa Minta Program Makan Bergizi Gratis Dilanjutkan
Lebih dari 43 juta siswa telah menerima MBG hingga 10 Juni 2026; mayoritas meminta program dilanjutkan karen...
Tunjangan Guru Naik 2026, ASN dan Non-ASN Dapat Kenaikan
Mendikdasmen Abdul Mu'ti memastikan tunjangan guru ASN dan non-ASN naik pada 2026, dengan penyaluran langsun...
Wamen PPPA Pastikan Korban Perundungan 6 Tahun Didampingi
Wamen PPPA Veronica Tan pastikan korban perundungan usia 6 tahun mendapat pendampingan psikologis, sosial, d...
12.500 Guru Akan Diwisuda Lewat Beasiswa RPL
Mendikbud harap Presiden mewisuda 12.500 guru penerima beasiswa D4/S1 lewat skema RPL, bantuan Rp3 juta per...
Pemerintah Kembangkan 100 Sekolah Nasional Terintegrasi
Pemerintah targetkan bangun 100 Sekolah Nasional Terintegrasi tahun ini, model unggulan non-berasrama ditamb...