BPOM Dorong Kebangkitan Jamu Lewat Riset dan Hilirisasi
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mendorong kebangkitan jamu nasional melalui riset, hilirisasi, dan kolaborasi lintas sektor. Pernyataan itu disampaikan usai Kick Off Pekan Jamu 2026 di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa 2 Juni 2026. Tujuannya, mempertahankan warisan budaya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk jamu.
Tiga fokus utama Pekan Jamu
BPOM menetapkan tiga fokus pada kegiatan ini: sosialisasi, riset development, dan hilirisasi jamu. Ketiga aspek dianggap saling melengkapi untuk memperkuat posisi jamu di pasar domestik dan internasional.
“Dari ketiga hal itu, pertama sosialisasi, yang kedua penguatan yang kita sebut dengan riset development. Dan yang ketiga adalah memberikan nilai tambah tentu ini membutuhkan kerjasama semua pihak,”
Kolaborasi riset dan penguatan hilirisasi
Taruna Ikrar menyatakan BPOM menginisiasi riset bersama berbagai lembaga untuk memperkuat basis ilmiah jamu. Kerja sama dilakukan dengan akademisi, BRIN, dan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Hilirisasi disebut perlu agar bahan baku jamu bisa diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Proses ini diharapkan meningkatkan pendapatan pelaku usaha dan membuka peluang ekspor baru.
Dukungan pelaku usaha dan akademisi
Pelaku industri jamu menyambut inisiatif BPOM. Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, Jony Yuwono, menilai Indonesia memiliki potensi besar karena sebagian besar herbal dunia berada di wilayah nasional.
“Namun kekayaan alam tersebut bukan hanya sebagai bahan saja, tapi kita memiliki budaya, budaya sehat jamu. Dimana yang memanfaatkan tanaman-tanaman tersebut untuk diolah menjadi sesuatu untuk kesehatan masyarakat,”
Di sisi akademik, Profesor Sukardiman dari Universitas Airlangga menegaskan dukungan penuh terhadap program yang menggabungkan penelitian dan pengembangan produk.
“Sebagai seorang akademisi sangat mendukung program ini dan termasuk saya juga dengan bantuan atau juga support Badan POM. Patent research herbal saya mungkin tertinggi yang granted di Unair yang sudah paling tidak juga bisa bermanfaat,”
Langkah ke depan
BPOM berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku UMKM, dan industri dapat berkelanjutan. Langkah selanjutnya mencakup perluasan riset, penguatan standar mutu, serta dukungan untuk hilirisasi agar jamu menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing.
Dengan sinergi tersebut, targetnya adalah menjadikan jamu sebagai bagian penting dari ekonomi kesehatan nasional sekaligus melestarikan budaya tradisional Indonesia.
Berita Terkait
BPOM Dorong Ketahanan Obat dan Ekonomi lewat Pekan Jamu 2026
BPOM lewat Pekan Jamu 2026 dorong ketahanan obat dan ekonomi dengan sosialisasi, riset, dan kolaborasi ABG u...
Work-Life Balance: Cara Menjaga Keseimbangan Sehari-hari
Pahami konsep work-life balance dan praktik mudah untuk membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi...
Kemenkes Waspadai WNI Pulang dari Kongo dan Uganda terkait Ebola
Kemenkes minta WNI yang baru kembali dari Kongo dan Uganda segera periksa diri jika demam atau perdarahan da...
Kemenkes Perketat Pengawasan Ebola di Bandara Soetta
Kemenkes perketat pengawasan di Bandara Soetta sejak 31 Mei 2026 usai WHO tetapkan darurat Ebola di Kongo; s...
Sejarah dan Makna Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei
Hari Tanpa Tembakau Sedunia tiap 31 Mei mendorong perokok berpuasa 24 jam; inisiatif WHO ini bertujuan menek...
WHO Puji PP 28/2024, Indonesia Tingkatkan Proteksi dari Rokok
WHO memuji pengesahan PP 28/2024 yang menaikkan usia beli jadi 21 tahun dan melarang penjualan per batang un...